Sementara itu, sebelumnya Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati dalam keterangan pers juga menyatakan adanya indikasi melemahnya daya beli masyarakat.
Baca Juga: Kemenparekraf gandeng JKT48 gelar lomba aransemen ulang lagu-lagu daerah, simak tanggalnya di sini
Anis Byarwati memaparkan, bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengalami deflasi selama tiga bulan beruntun.
Pada Juli 2024 terjadi deflasi 0,18 persen (month to month/mtm), dengan Indeks Harga Konsumen turun dari 106,28 pada Juni 2024 menjadi 106,09 pada Juli 2024.
Karena itu dia mengingatkan, bahwa deflasi bisa menjadi sinyal dini yang mengindikasikan melemahnya daya beli.
Baca Juga: Jubir Kemenkes tegaskan alat kontrasepsi untuk remaja sudah menikah
Menurutnya, deflasi bisa menjadi sinyal bahaya karena mengindikasikan melemahnya daya beli masyarakat.
Hal itu menurutnya juga tercermin pada penurunan pertumbuhan tahunan simpanan di bank dari 7,8 persen menjadi hanya 4,1 persen.
"Utamanya tabungan di bawah Rp100 juta,” kata Anis.
Lebih jauh dia mengatakan, bahwa turunnya daya beli masyarakat dapat mempengaruhi pendapatan negara yang diakibatkan dari penurunan PPN, dan turunnya setoran pajak industri perdagangan.
Anis juga khawatir daya beli masyarakat yang anjlok berkepanjangan akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi terhambat.
Hal itupun akan menyebabkan kemiskinan akan semakin meningkat.
Diapun menyinggung soal Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia yang masih menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara.