WartaPesona.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut Purchasing Managers’ Index (PMI) dan berada di level kontraksi.
Menurut Presiden Jokowi, setelah ekspansif selama 3-4 bulan berturut-turut Purchasing Managers’ Index pada Juli 2024 berada di level kontraksi.
Terkait hal tersebut, Presiden Jokowi meminta kepada para menteri dan jajaran untuk segera mewaspadai penurunan Purchasing Managers’ Index.
Baca Juga: Partai Golkar terbitkan 331 surat rekomendasi dukungan Bakal Paslon Kepala Daerah di Pilkada 2024
“Ini agar dilihat betul, diwaspadai betul secara hati-hati karena beberapa negara di Asia PMI-nya juga berada di angka di bawah 50, yaitu Jepang 49,2, Indonesia 49,3, RRT 49,8, Malaysia 49,7,” kata Presiden Jokowi, saat Sidang Kabinet Paripurna di Ibu Kota Nusantara, belum lama ini.
Presiden Jokowi, pun menguraikan jika komponen yang mengalami penurunan paling banyak adalah sektor produksi -2,6, pesanan baru atau order baru 1,7 dan sektor employment -1,4.
“Saya ingin dicari betul penyebab utamanya dan segera diantisipasi, karena penurunan PMI ini saya lihat sudah terjadi sejak empat bulan terakhir. Betul-betul dilihat kenapa permintaan domestik melemah,” tegas Presiden Jokowi.
Baca Juga: Benteng Belgica di Banda Neira Maluku Tengah, pusat pemerintahan pertama VOC Belanda di Nusantara
Presiden juga menekankan untuk segera mengidentifikasi penyebab utama dari penurunan tersebut. Termasuk beban impor bahan baku yang tinggi karena fluktuasi rupiah, serta serangan produk-produk impor.
Selain itu juga perlunya belanja produk, penggunaan bahan baku lokal, dan perlindungan terhadap industri dalam negeri.
Presiden Jokowi di sidang kabinet itu juga mendorong adanya pencarian pasar non tradisional, dan potensi pasar ekspor baru untuk mengatasi tantangan ini.
Baca Juga: Rizki Juniansyah, lifter pertama Indonesia yang meraih emas di Olimpiade
Dia mengatakan, bahwa kondisi tersebut terjadi karena permintaan ekspor atau dari luar negeri melemah, akibat gangguan rantai pasok atau perlambatan ekonomi terhadap mitra-mitra dagang utama.
"Sehingga kita harus bisa mencari pasar non tradisional, dan mencari potensi pasar baru ekspor kita,” tegas Presiden.