WartaPesona.com - Indonesia telah selesaikan event besar KTT G20 dengan kesepakatan Deklarasi Bali.
Dengan hal itu memuat berbagai bentuk kerja sama di masa depan.
Posisi Indonesia sangat kuat meyakinkan para pemimpin negara yang hadir di KTT G20.
Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.
Dikutip dari Pikiran Rakyat dalam artikel yang berjudul'Deklarasi Bali Jadi Hasil KTT G20 Bali, Menlu Retno Beberkan Usaha Indonesia Meyakinkan Dunia'.
Baca Juga: Salah satu hasil G20 Bali : 17 Pemimpin Negara Sepakat Pangkas Subsidi BBM, Simak Penjelasannya
Dijelaskan Menlu Retno, Deklarasi Bali merupakan hasil pembicaraan yang melalui beberapa putaran negosiasi.
Hingga akhirnya, negosiasi terakhir terjadi pada 10-14 November 2022, sehari sebelum berlangsungnya KTT G20.
Untuk isi dalam Deklarasi Bali, Menlu Retno mengungkap total 52 paragraf kesepakatan dengan 361 bentuk kerja sama.
"Selama presidensi, Indonesia juga menyinergikan penguatan kerja sama dalam konteks bilateral dengan negara G20 di tiga sektor prioritas, dan ada 140 program kerja sama," ujarnya membeberkan peran Indonesia.
Baca Juga: Moment KTT G20 DI Bali , Pemimpin Negara Dibuat Kaget Oleh Jokowi Saat Diajak Ke Tahura Bali
Meski begitu, Indonesia yang ingin menghasilkan suatu deklarasi, sempat mendapat suara sumbang penuh pesimistis.
Dalam hal ini, Indonesia mengemban Presidensi KTT G20 di tengah perang Rusia-Ukraina dan krisis pangan, energi, dan keuangan.
"Jadi ini adalah usaha yang luar biasa, dengan menggunakan aset diplomasi yang sudah cukup lama Indonesia mencoba menjembatani semua perbedaan yang ada (di antara anggota G20)," ujarnya menegaskan.
Selain itu, ada satu hal dalam Deklarasi Bali yang sempat memicu perdebatan, yakni sikap negara-negara dunia pada perang Rusia-Ukraina.