WartaPesona.com - Minggu, 28 Agustus 2022 Presiden Joko Widodo kunjungan kerja Ke Bandung, Jawa Barat.
Dalam kunjungan kerja ini Presiden Jokowi mengingatkan akan kewaspadaan potensi ancaman krisis pangan dunia.
Presiden Jokowi Mengungkapkan bahwa situasi dunia saat ini sedang berada disituasi sangat sulit, dan dalam ketidakpastian.
Kondiisi sulit ini dimulai dari Pandemi Covid-19, Presiden Jokowi mengungkapkan juga ada 82 Negara yang mengalami kelaparan akut. Terdata setidaknya 345 juta jiwa terdampak dari akibat krisis pangan dunia yang melanda berbagai belahan dunia.
Dikutip dari Pikiran Rakyat dalam artikel yang berjudul 'Menyikapi Jokowi ke Bandung, Waspadai Kelaparan Akut Akibat Dampak Krisis Pangan Dunia' bahwa untungnya Indonesia memiliki ketahanan pangan yang kuat (resiliensi). Setidaknya itu terbukti dari penghargaan yang diberikan oleh International Rice Research Institute (IRRI), 14 Agustus lalu, yang diterima langsung oleh Presiden Jokowi, terkait sistem ketahanan pertanian-pangan tangguh dan swasembada beras (2019-2021) melalui penggunaan teknologi inovasi padi.
Untuk pencapaian swasembada beras dimaksud merupakan pengulangan pencapaian di tahun 1984, di mana kala itu, Indonesia diganjar penghargaan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO)-PBB.
IRRI merupakan sebuah lembaga penelitian non pemerintah internasional yang berdiri semenjak tahun 1960 dan berpusat di Los Banos, Filipina, dan getol melakukan research agar negara-negara di ASEAN memiliki ketahanan pangan serta mencari cara guna meningkatkan kesejahteraan petani beras, konsumen, dan keberlanjutan lingkungan pertanian padi.
Baca Juga: Heboh! Unggahan Kembali Lucas NCT di Instagram, Fans Kangen dan Merasakan Ada Pesan yang Samar
Hal di atas mengingatkan kita kembali kepada teori klasik yang dikemukakan oleh ahli demografi Inggris, Thomas Robert Maltus (1766-1834), bahwasanya jumlah penduduk akan melampaui ketersediaan pangan akibat terbatasnya kapasitas lahan (tanah) guna memproduksi komoditi pangan dan akibat kencangnya laju pertumbuhan penduduk.
Hal ini otomatis akan berdampak terhadap timbulnya kelaparan yang berujung kepada penyakit dan kematian.
Malthus menyatakan tingkat pertumbuhan penduduk bakal mengikuti deret ukur sementara laju ketersediaan pangan mengikuti deret hitung. Dalam hal ini, akan terjadi ketimpangan yang menimbulkan permasalahan global.
Menilik sejarah kehidupan umat manusia, krisis pangan, memang praktis terjadi hampir di setiap generasi. Hal mana diulas antara lain pada Starving Nations-The Story: History of the Food Crisis.
“Perlu ada persiapan yang matang, apalagi khusus untuk yang berkaitan dengan energi, di mana hampir setengah dari kebutuhan energi nasional merupakan barang impor. Kita ini negara besar, pangan juga pangan yang besar, energi pun butuh yang besar, baik untuk kendaraan, industri, rumah tangga, dan lain-lain,” kata Presiden tegas.