WartaPesona.com - Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tengah membidik peluang investasi dengan Arab Saudi di bidang energi baru terbarukan (EBT) dan pembangunan rumah sakit.
Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses hilirisasi industri yang tengah dilakukan.
Sejak empat tahun lalu, Indonesia telah memulai hilirisasi di sektor pertambangan dengan diawali pelarangan ekspor bijih nikel.
Dengan keputusan tersebut disampaikan bahwa mulai tahun ini, beberapa komoditas seperti sumber daya mineral seperti bauksit, konsentrat tembaga, serta timah juga akan dilarang untuk melakukan diekspor.
Baca Juga: Kim Soo Hyun Siap Menyapa Penggemar Setia di Indonesia dalam Fan Meeting Tahun 2023
Hal tersebut merupakan sebuah upaya Indonesia dalam mendorong kemajuan dalam hilirisasi sumber daya mineral.
Menurut Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, sesuai arahan Presiden Joko Widodo, Indonesia sangat terbuka untuk investasi, khususnya dalam hilirisasi industri dan ekonomi hijau yang menggunakan energi dan industri hijau.
BKPM memulai dengan hilirisasi sumber daya mineral dan ini adalah peluang besar, sehingga Indonesia ingin ada investasi bersama antara Arab Saudi dengan Indonesia.
Dalam kunjungan ke Arab Saudi, Bahlil dan Menteri Investasi Arab Saudi, Khalid A. Al-Falih sepakat untuk menjajaki peluang kerja sama investasi terkait dengan energi terbarukan dan pembangunan rumah sakit.
Baca Juga: Mengapa Konsultan Bisnis Penting bagi Pertumbuhan Usaha Anda?
Hasil pertemuan ini akan ditindaklanjuti untuk kemudian dituangkan dalam bentuk yang lebih konkret sehingga semakin mendorong realisasi investasi asal Arab Saudi di Indonesia.
Pihak dari Arab Saudi menyambut baik usulan dari Bahlil dan mengatakan bahwa telah memiliki hubungan yang erat dan akrab dengan Indonesia, baik dari hubungan ekonomi maupun diplomatik.
Baca Juga: Mengenal Konsep Design Thinking dan Bagaimana Menerapkannya di Berbagai Bidang
Khalid memberikan apresiasi terhadap upaya Negara Indonesia dalam melakukan sebuah transformasi ekonomi dengan melalui hilirisasi SDA sehingga mampu mengurangi ketergantungan Negara Indonesia terhadap komoditas mentah.
Kedua menteri tersebut juga sepakat mengenai kerja sama sebuah investasi antara kedua negara yang masih belum sesuai dengan potensi yang ada dan dapat ditingkatkan lagi.
Data BKPM menunjukkan bahwa realisasi investasi asal Arab Saudi dalam periode 2018 hingga triwulan I 2023 mencapai US$ 26,5 juta, tidak termasuk investasi pada sektor keuangan dan hulu migas.
Sektor tersier mendominasi dengan total senilai US$ 24,78 juta atau 94% dengan capaian tertinggi oleh sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran senilai US$ 16,93 juta atau sebanyak 64% dari total nilai investasi Arab Saudi di Indonesia.
Baca Juga: Preview Semifinal Liga Konferensi Eropa: West Ham United vs AZ Alkmaar
Provinsi Bali menjadi lokasi utama realisasi investasi Arab Saudi dengan capaian sebesar US$ 10,3 juta (39%), diikuti oleh Jawa Barat, Jawa Timur, Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta, dan Kalimantan Timur dalam periode lima tahun terakhir.
Data sepuluh tahun terakhir menunjukkan total investasi dari Arab Saudi sebesar US$ 64,6 juta yang berasal dari 423 proyek. *** (FA)
Penulis: Fisqiyyah Awawin