Namun jika negara mampu menutup kebocoran, memimpin industrialisasi, menjaga pasar tetap hidup, dan memastikan kekayaan alam menjadi kemakmuran rakyat, maka pidato ini bisa menjadi awal deklarasi ekonomi baru Indonesia.
Bukan ekonomi yang tunduk pada pasar sepenuhnya. Bukan pula ekonomi negara yang membunuh kreativitas.
Tetapi ekonomi republik: pasar bekerja, negara memimpin, rakyat menikmati.
Sebab bangsa besar bukan bangsa yang paling kaya sumber daya, melainkan bangsa yang tak membiarkan kekayaannya bocor dari tangan rakyatnya sendiri.
Integrasi teknologi digital dan penguatan diplomasi hukum internasional menjadi kunci mutlak agar kedaulatan ekonomi ini tidak terisolasi, sekaligus memastikan transparansi penuh yang menutup celah bagi rente birokrasi di setiap lini.
Jika berhasil, Prabowo meletakan fondasi Indonesia baru. Ia pun akan dikenang sebagai Bapak Kemandirian Bangsa.***
Referensi
- Chalmers Johnson, MITI and the Japanese Miracle: The Growth of Industrial Policy, 1925-1975, Stanford University Press, 1982.
- Robert Wade, Governing the Market: Economic Theory and the Role of Government in East Asian Industrialization, Princeton University Press, 1990.