Ekonomi Venezuela juga terlalu bergantung pada minyak dan tidak membangun industri lain. Saat harga minyak dunia jatuh dan sanksi internasional datang, negara kehilangan pemasukan besar.
Produksi minyak merosot, inflasi meledak, rakyat miskin, dan jutaan orang akhirnya meninggalkan negaranya.
Nigeria juga lama bergulat dengan paradoks minyak: kaya energi, tetapi bocor oleh korupsi, konflik, dan tata kelola lemah.
Maka ujian Indonesia bukan sekadar nasionalisme. Ujiannya adalah kapasitas dan kompetensi tata kelola negara.
Negara kuat tanpa integritas menjadi predator. Negara kuat dengan kompetensi menjadi pembangun peradaban.
Saya membayangkan pidato itu bukan hanya sebagai suara seorang presiden di ruang DPR.
Saya membayangkannya sebagai suara yang sudah lama hidup di banyak percakapan rakyat kecil.
Di warung kopi, orang bertanya: mengapa negeri sekaya ini masih sulit membuat hidup layak bagi banyak warganya?
Di desa, petani bertanya: mengapa pupuk selalu menjadi drama tahunan?
Di sekolah, guru bertanya: mengapa mencerdaskan bangsa belum membuat hidup mereka cukup terhormat?
Dan di hati saya sendiri, pertanyaan itu sering datang: jangan-jangan Indonesia bukan kekurangan kekayaan, tetapi kekurangan keberanian untuk menutup lubang-lubang yang membuat kekayaan itu pergi.
Pidato Prabowo menyentuh saraf itu. Ia bukan hanya bicara APBN. Ia bicara luka lama sebuah bangsa.
Pidato Prabowo 20 Mei 2026 akan dikenang jika ia tidak berhenti sebagai retorika.
Ia harus menjadi disiplin tata kelola.
Indonesia memang kaya. Tetapi kekayaan tanpa institusi hanya menjadi cerita sedih. SDA tanpa transparansi menjadi santapan elite. Nasionalisme tanpa kompetensi menjadi slogan. Negara kuat tanpa akuntabilitas menjadi bahaya.