Prabowo tampaknya percaya bahwa pasar tidak selalu otomatis menciptakan keadilan. Jika negara terlalu lemah, yang muncul adalah konsentrasi kekayaan, dominasi oligarki, dan ketergantungan terhadap modal asing.
Oleh karena itu, negara harus hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga pengarah arah pembangunan nasional.
Namun menariknya, Prabowo tidak sepenuhnya menolak swasta. Ia tetap berbicara tentang entrepreneurship, inovasi, kompetisi, dan efisiensi.
Artinya, yang ingin dibangun bukan ekonomi komando ala negara sosialis klasik, melainkan model “jalan tengah”: pasar tetap hidup, tetapi sektor strategis dikendalikan negara demi kepentingan nasional.
Di titik ini, pidato Prabowo terasa seperti kebangkitan kembali gagasan developmental state Asia Timur.
Negara bertugas membuka jalan industrialisasi, melindungi kepentingan nasional, dan memastikan pasar bekerja untuk bangsa, bukan bangsa bekerja untuk pasar.
Ketiga, Indonesia harus naik kelas melalui industrialisasi.
Indonesia tidak boleh selamanya menjadi penjual bahan mentah. Ia harus membuat mobil sendiri, motor sendiri, komputer sendiri, handphone sendiri. Ini mimpi besar: dari eksportir komoditas menjadi negara industri modern.
Dalam sejarah dunia, hampir tidak ada negara maju yang kaya hanya karena menjual bahan mentah. Negara maju lahir ketika mereka mampu mengubah sumber daya menjadi teknologi, manufaktur, dan inovasi bernilai tambah tinggi.
Jepang tidak kaya karena menjual besi mentah. Korea Selatan tidak menjadi raksasa ekonomi karena mengekspor batu bara. Mereka maju karena membangun industri, teknologi, dan kapasitas manusia.
Prabowo tampaknya ingin Indonesia mengikuti jalan itu. Hilirisasi mineral, sovereign wealth fund Danantara, investasi negara, dan pasar domestik besar diposisikan sebagai fondasi industrialisasi baru Indonesia.
Tetapi industrialisasi sejati bukan sekadar membangun pabrik. Ia membutuhkan pendidikan berkualitas, riset, transfer teknologi, disiplin birokrasi, dan kepastian hukum.
Oleh karena itu, tantangan terbesar Indonesia bukan hanya membangun industri, tetapi membangun manusia yang mampu mengelola industri modern.
Jika berhasil, Indonesia tidak lagi dikenal sebagai negeri pengekspor bahan mentah, tetapi sebagai bangsa yang mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan teknologi dan peradaban.
Gagasan “Indonesia kaya tapi bocor” bukan baru muncul dalam pidato ini. Ia sudah menjadi inti pemikiran Prabowo sejak bukunya Paradoks Indonesia, 2017.