Audiensi tersebut berlangsung selama hampir 30 menit dan membahas keluhan serta kondisi siswa setelah mengonsumsi makanan MBG.
Namun demikian, setelah audiensi selesai, jumlah siswa yang mengeluhkan sakit perut justru terus bertambah.
Kondisi tersebut membuat petugas puskesmas turun langsung ke sekolah, disusul dengan kedatangan sejumlah ambulans untuk mengevakuasi siswa ke fasilitas kesehatan.
"Awalnya hanya beberapa siswa, tetapi kemudian semakin banyak yang berdatangan ke UKS dengan keluhan sakit perut," ujar Umam.
Baca Juga: Ahok Bongkar Kebiasaan Direksi Bertemu di Lapangan Golf dalam Kasus Korupsi Minyak
Menunggu Hasil Uji Laboratorium
Terkait penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut, Nasihul Umam menegaskan pihaknya belum dapat menarik kesimpulan.
Saat ini, sampel makanan MBG telah dikirim untuk menjalani uji laboratorium guna mengetahui apakah terdapat kandungan yang memicu gangguan kesehatan pada siswa.
"Kami masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan MBG. Jadi, untuk penyebab pastinya belum bisa kami simpulkan," pungkas Umam.
Sementara itu, kasus dugaan keracunan massal di SMAN 2 Kudus ini menjadi perhatian serius berbagai pihak.
Pemerintah daerah diharapkan dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya dari sisi pengolahan, distribusi, dan pengawasan makanan, demi memastikan keamanan dan kesehatan para penerima manfaat. *****