WartaPesona.com - Salah satu warga Pidie Jaya, Aceh menceritakan pengalaman pahit yang ia alami bersama keluarganya saat bencana banjir bandang dan tanah longsor terjadi.
Dalam sebuah video yang diunggah akun Instagram @rizkirinanda pada Senin, 5 Januari 2026, ia mengungkapkan bahwa proses evakuasi baru dilakukan pada hari keempat sejak banjir mulai masuk ke permukiman warga.
“Kami diambil sama tim SAR dan anggota polisi, lalu dibawa ke rumah sakit. Dirawat di sana selama empat malam,” ujarnya.
Baca Juga: Air Minum Langka di Area Kota Aceh Tamiang, Warga : Mau Beli Susah, Bantuan Juga Minim
Rumah Hancur, Tak Tahu Harus Pulang ke Mana
Setelah kondisinya dinyatakan membaik, pihak rumah sakit memperbolehkan ia dan keluarganya pulang. Namun, izin pulang itu justru menghadirkan kebingungan baru.
“Dokter masuk dan bilang ibu sudah boleh pulang. Saya jawab ke dokter, ‘Pak dokter, saya mau pulang ke mana?’ Rumah kami sudah hancur,” kenangnya dengan suara bergetar.
Akhirnya, ia dan keluarganya ditampung sementara di rumah seorang kerabat di kawasan Dayah Paneuk.
Meski bisa berteduh, rasa aman belum sepenuhnya dirasakan.
Banjir Susulan dan Ancaman Kayu Gelondongan
Belum genap dua malam menginap, banjir susulan kembali datang. Meski ketinggian air tidak separah sebelumnya, ancaman tetap terasa nyata.
“Ada kayu panjang kira-kira 10 meter, lengkap dengan akar dan dahan, menghantam teras rumah sampai miring,” ungkapnya.
Situasi tersebut membuat mereka kembali diliputi rasa takut, terlebih hujan masih terus mengguyur wilayah Pidie Jaya kala itu.
Dievakuasi ke Posko, Bertahan dengan Apa yang Ada
Pasca banjir susulan, tim kembali melakukan evakuasi dan membawa mereka ke posko pengungsian.
Di sana, ia bersama 17 orang lainnya harus berbagi ruang dan logistik seadanya.