Hal inilah yang membuat kasus teror tersebut dinilai lebih serius dan menimbulkan rasa khawatir mendalam.
Sherly menegaskan, rumah yang menjadi lokasi kejadian bukan sepenuhnya rumah pribadi yang ia tempati sehari-hari.
Ia juga menjelaskan alasan mobil kerap terparkir di depan rumah.
“Ada sedikit miss (kekeliruan) untuk ukuran garasinya sehingga kendaraan tidak bisa dimasukkan full badan,” tulis Sherly.
“Jadinya sesekali mobil disimpan di depan rumah sebagaimana umumnya tetangga yang lain, terlebih jalanan kompleksnya terhitung lebar,” sambungnya.
Pelaku Diduga Gunakan Dua Motor
Dalam penjelasan lanjutan, Sherly menyebut bahwa pelaku tidak bekerja sendirian. Berdasarkan pengamatannya dari rekaman CCTV, terdapat indikasi penggunaan dua sepeda motor dalam aksi teror tersebut.
“1 motor awal sepertinya yang memastikan target dan motor kedua yang dinaiki 2 orang yang melakukan tugasnya,” ungkap Sherly.
Pola tersebut menguatkan dugaan bahwa aksi ini telah direncanakan sebelumnya, bukan sekadar tindakan spontan.
Alasan Unggah Rekaman ke Media Sosial
Sherly juga mengungkap alasan di balik keputusannya mempublikasikan rekaman CCTV tersebut ke media sosial.
Menurutnya, ancaman yang melibatkan keluarga menjadi titik batas yang tidak bisa ia diamkan.
“Karena ancamannya sudah melibatkan keluarga (mengirimkan identitas adik), setelah sebelumnya banyak sekali direct message (DM) teror yang punya tingkat kemiripan,” jelasnya.
Ia berharap dengan mengungkap kronologi secara terbuka, publik dapat mengetahui urutan peristiwa jika ke depannya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Jadi kalau ada hal-hal aneh terjadi setelah ini, teman-teman juga setidaknya sudah tahu urutan peristiwanya,” imbuhnya.