Banyak rumah warga mengalami kerusakan berat, ambruk, bahkan tertimbun lumpur yang mulai mengering.
Sebagian warga terpaksa bertahan di rumah yang kondisinya tidak lagi layak huni, sementara lainnya memilih mengungsi ke rumah kerabat di desa lain.
Namun keterbatasan akses membuat mobilitas bantuan dan layanan dasar berjalan sangat lambat.
Momen Menegangkan Wabup Aceh Tengah
Kondisi ekstrem akses di Kecamatan Ketol sempat menjadi perhatian publik setelah video Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan, viral di media sosial.
Dalam video tersebut, Muchsin terlihat menyeberangi sungai menggunakan tali sling di Desa Bergang, Kecamatan Ketol, pada 24 Desember 2025.
Insiden menegangkan terjadi ketika salah satu tali sling pengikat kawat putus di tengah penyeberangan.
Muchsin nyaris terjatuh ke sungai dari ketinggian sekitar 10 meter, dengan arus deras mengalir di bawahnya.
Tali sling tersebut diketahui tidak mampu menahan beban tubuh Wakil Bupati beserta motor trail yang ikut diangkut ke seberang.
Beruntung, insiden itu tidak menimbulkan korban jiwa, namun menjadi gambaran nyata betapa berbahayanya akses yang harus dilalui warga setiap hari.
Baca Juga: Sembako Mahal di Takengon, Warga Pilih Jalan Kaki ke Bener Meriah untuk Tekan Pengeluaran
Listrik Belum Pulih, Warga Bertahan dalam Gelap
Selain persoalan akses darat, kelistrikan di Kecamatan Ketol juga belum pulih sepenuhnya pascabanjir bandang.
Hingga kini, 11 desa, termasuk Desa Burlah, masih belum menikmati aliran listrik.
Warga terpaksa bertahan dalam kondisi gelap saat malam hari, mengandalkan lampu minyak, lilin, atau genset seadanya.
Kondisi ini semakin menyulitkan aktivitas warga, terutama anak-anak, lansia, serta pelayanan kesehatan darurat.
Minimnya penerangan juga meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi warga yang masih harus melintasi jalur berbahaya seperti tali sling untuk memenuhi kebutuhan hidup.