Ia mengaku sangat bergantung pada bantuan relawan yang datang secara sukarela ke desanya.
Tanpa bantuan tersebut, ia tidak tahu lagi harus mengandalkan apa untuk sekadar bertahan hidup.
“Kalau kami tidak dibantu dengan kawan-kawan (relawan), kami tidak makan selama berhari-hari,” ucapnya lirih, menggambarkan kondisi kelaparan yang dialami warga desa.
Akses jalan yang rusak parah menjadi salah satu kendala utama dalam penyaluran bantuan.
Jalan desa masih dipenuhi lumpur tebal, bebatuan, dan sisa-sisa material banjir, membuat kendaraan sulit melintas.
Selain itu, keterbatasan jaringan komunikasi semakin memperparah kondisi, karena warga kesulitan menghubungi pihak luar untuk meminta pertolongan.
“Lihat jalanan yang dipenuhi lumpur. Hancur hati saya mengingat kejadian ini. Tapi sekarang mau bilang apa lagi, semuanya sudah habis,” kata pria tersebut, mengenang detik-detik saat banjir bandang menerjang desanya.
Baca Juga: Kebun Habis Diterjang Banjir, Ayah di Aceh Tamiang Bingung Penuhi Biaya Sekolah Anak
Tidak hanya permukiman, perkebunan yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama warga juga hancur tersapu banjir.
Lahan yang ditanami berbagai komoditas kini rusak parah, tertutup lumpur dan bebatuan, sehingga tidak lagi bisa diolah dalam waktu dekat.
Pria itu mengaku kehilangan hampir seluruh harta benda yang ia miliki. Hasil kebun yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya lenyap seketika, membuatnya tidak memiliki sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Harta saya habis, perkebunan saya habis. Tanpa bantuan kawan-kawan, saya tidak tahu harus makan apa,” ungkapnya dengan nada pasrah.
Meski berada dalam kondisi yang serba kekurangan, pria tersebut tidak menyampaikan tuntutan berlebihan.
Ia hanya berharap ada perhatian dan bantuan makanan untuk dirinya dan warga sekitar agar mereka tidak terus dilanda kelaparan.
“Jadi tolong bantu kami. Kami tidak mengharapkan macam-macam, makan itu saja sudah cukup,” tuturnya menutup cerita.