Kondisi lingkungan pengungsian yang lembap, minim perlindungan dari cuaca, serta keterbatasan akses layanan kesehatan mulai berdampak pada kondisi anak-anak.
Dalam video yang beredar, disebutkan bahwa anak sang ibu mulai jatuh sakit.
“Anaknya sudah mulai sakit, rumahnya hancur,” lanjut keterangan dalam unggahan tersebut.
Situasi ini membuat beban sang ibu kian berat. Di satu sisi, ia harus menjaga anaknya yang sakit, sementara di sisi lain ia masih dihantui kekhawatiran akan nasib suami yang belum diketahui.
Baca Juga: Korban Banjir Aceh Tamiang Tunjukkan Ketegaran, Minta Mualem Tetap Kuat
Potret Nyata Krisis Kemanusiaan
Kisah dari Buket Dara Baro ini menjadi potret nyata krisis kemanusiaan yang dialami warga di pedalaman Aceh Utara.
Banjir tidak hanya membawa kerusakan fisik, tetapi juga memisahkan keluarga, memicu trauma, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak.
Sejumlah pengungsi lainnya dilaporkan mengalami kondisi serupa, mulai dari kehilangan anggota keluarga, rumah yang rusak berat, hingga keterbatasan akses bantuan dan layanan medis.
Baca Juga: Koneksi Internet Jadi Obat Rindu, Ayah Pengungsi Aceh Tamiang Menangis Bahagia
Harapan akan Perhatian dan Uluran Tangan
Kisah pilu ini pun menuai empati dari warganet. Banyak pengguna media sosial yang mengungkapkan keprihatinan dan berharap adanya perhatian lebih dari pihak terkait, baik pemerintah daerah maupun lembaga kemanusiaan, untuk memastikan keselamatan dan pemulihan para korban banjir.
Bagi sang ibu, harapan terbesar kini adalah menemukan kembali suaminya dan melihat anaknya kembali sehat.
Di tengah duka berlapis yang dialami, ketabahan menjadi satu-satunya kekuatan untuk bertahan.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik angka statistik bencana, terdapat manusia-manusia yang berjuang menghadapi kehilangan, ketidakpastian, dan penderitaan yang nyata, serta sangat membutuhkan uluran tangan dan perhatian bersama. *****