Ringkasan :
- Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkap tiga tren global yang akan membentuk masa depan pariwisata Indonesia: perubahan sumber wisatawan, pergeseran demografi wisatawan, dan pola baru pemilihan destinasi.
- Indonesia berpeluang besar menjadi destinasi ramah Muslim dan menarik wisatawan generasi muda seperti Gen Z dan milenial yang mengutamakan pengalaman autentik serta berbasis digital.
- Kementerian Pariwisata menyiapkan program strategis seperti Pariwisata Naik Kelas, Desa Wisata, Tourism 5.0, dan peningkatan keselamatan wisata untuk mendukung pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif.
Ringkasan di atas dihasilkan menggunakan AI.
WartaPesona.com - Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana memaparkan tiga tren global yang akan membentuk arah dan masa depan sektor pariwisata Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Tiga tren tersebut meliputi perubahan sumber wisatawan global, pergeseran demografi wisatawan, serta pola baru dalam pemilihan destinasi.
Pernyataan ini disampaikan dalam pembukaan acara Indonesia Tourism Outlook 2026 yang diinisiasi Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) di Jakarta, Rabu (29/10/2025).
Baca Juga: Kemenpar Perkuat Sinergi Pusat dan Daerah Selaraskan Arah Pembangunan Pariwisata Nasional
Menpar Widiyanti menjelaskan, tren pertama adalah semakin beragamnya sumber wisatawan outbound dunia.
Jika sebelumnya wisatawan internasional didominasi Amerika, Eropa, dan Asia Timur, kini negara-negara dari Asia Selatan, Amerika Latin, hingga Timur Tengah termasuk Indonesia diproyeksikan menjadi 15 besar pasar outbound global pada 2040.
Hal ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai destinasi ramah Muslim, mengingat potensi belanja wisatawan Muslim dunia yang diperkirakan mencapai lebih dari 235 miliar dolar AS pada 2030.
Baca Juga: Sanur Jadi Pusat Promosi Wisata 3B, Kemenpar Dorong Sebaran Wisatawan ke Bali Utara dan Banyuwangi
Tren kedua, lanjut Menpar, adalah dominasi wisatawan dari generasi muda, yaitu Gen Z dan milenial, yang mencari pengalaman wisata autentik dan bermakna.
Sebanyak 52 persen di antara mereka rela membayar lebih untuk pengalaman yang berkesan. Karena itu, strategi promosi pariwisata Indonesia perlu memanfaatkan kekuatan digital, media sosial, dan kecerdasan buatan.
Sementara itu, tren ketiga adalah meningkatnya minat terhadap destinasi non-mainstream.