Kemudian pada masa pendudukan Jepang, gedung tersebut digunakan sebagai rumah dinas residen militer, dan markas Syudocan.
Baca Juga: Begini jawaban Kemenag soal 5 rekomendasi Pansus Angket Haji 2024 DPR RI
Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini digunakan sebagai markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Saat itu, gedung Museum TNI AD Dharma Wiratama juga menjadi saksi ditunjuknya Sudirman sebagai Panglima TKR atau TNI.
Tak hanya itu, gedung Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama di Yogyakarta ini juga menjadi saksi penculikan kejam G30S PKI 1965.
Saat itu sebelum menjadi museum, gedung peninggalan Belanda yang menjadi markas TKR, pada masa berikutnya menjadi Markas Korem 072 PMK Yogyakarta.
Baca Juga: HASIL LIGA 1: Persita Tahan Imbang Borneo FC, Rekor Tak Terkalahkan Pesut Etam Terjaga
Kasrem 072/PMK waktu itu, Letkol Sugiyono, menjadi korban penculikan dalam peristiwa G30S PKI 1965.
Jauh sebelum berbagai peristiwa sejarah itu terjadi, gedung peninggalan zaman Belanda ini sejak tahun 1956 memang sudah digagas untuk dijadikan sebagai museum.
Tujuannya untuk mengenang perjuangan dan pengabdian TNI AD, seperti namanya Dharma Wiratama, yang berarti pengabdian luhur.
Gagasan itu kemudian terealisasi pada 8 September 1968. Namun, pada 17 Juni 1968 museum dipindahkan ke gedung bekas Rumah Dinas Jenderal Sudirman di Yogyakarta.
Dalam perkembangannya kemudian, Museum TNI AD Dharma Wiratama kembali pindah ke gedung semula, dan diresmikan kembali pada 17 Juli 1982.
Kini, Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama terus berkembang menjadi sarana pendidikan sejarah dan jiwa patriotisme bagi pelajar dan generasi muda. ***(KKO)