Lalu, pada tahun 1605 Belanda merenovasi Benteng Melayu yang sudah lama terbengkalai itu dan menggunakannya sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan.
Empat tahun kemudian, pada 1609 Francois Witlentt mengubah nama Benteng Melayu itu menjadi Benteng Oranje atau Fort Oranje.
Oranje merupakan nama dinasti Oranje-Nassau di zaman Kejayaan Kerajaan Belanda masa lalu.
Baca Juga: Wakil Presiden ke-9 RI Hamzah Haz, tokoh bangsa yang pernah jadi wartawan
Fort Oranje atau Benteng Oranje pun menjadi awal dimulainya penjajahan Belanda di Nusantara, dengan berdirinya VOC.
Untuk pertama kalinya, Belanda membuat pusat kekuasaannya di Ternate untuk memobilisasi perdagangan rempah-rempah hasil bumi Nusantara.
Saat itu, VOC Belanda berkembang pesat karena Sultan Ternate memberinya izin untuk menguasai perdagangan rempah-rempah, utamanya cengkih.
Benteng Oranje juga ini menjadi saksi perundingan antara Gubernur Jenderal pertama Hindia Belanda, Pieter Both, dengan Sultan Mudaffar dari Ternate, tentang penetapan wilayah Maluku Utara sebagai lokasi pusat pemerintahan Hindia Belanda (VOC).
Baca Juga: Kalahkan Timor Leste 6-2, Timnas Indonesia lolos ke babak semifinal Piala AFF U-19 2024
Selain itu, Benteng Oranje juga menjadi saksi sejarah perjuangan Pahlawan Nasional Sultan Mahmud Badarudin II dari Palembang.
Sultan Mahmud Badarudin II, dan keluarganya pernah diasingkan di Benteng Oranje itu pada tahun 1822. Hingga akhir hayatnya, sang pahlawan ini kemudian dimakamkan tidak jauh Benteng Oranje.
Dengan berbagai riwayatnya di masa lalu, Benteng Oranje kini menjadi destinasi sejarah lama Kesultanan Ternate.
Bangunan bersejarah peninggalan Belanda tersebut menempati lahan seluas 12.680 meter persegi.