berita

Peneliti BRIN: Penggunaan Obat-obatan kimia di Daerah Aliran Sungai Citarum Hulu cukup besar, tertinggi Paracetamol

Selasa, 16 Juli 2024 | 12:39 WIB
Penggunaan obat-obatan kimia dan herbal di Daerah Aliran Sungai Citarum Hulu Jawa Barat ternyata cukup besar, menurut peneliti BRIN. (citarumharum.jabarprov)

WartaPesona.com - Peneliti BRIN menyebut penggunaan obat-obatan kimia di Daerah Aliran Sungai Citarum Hulu Jawa Barat, ternyata cukup besar. Paracetamol menempati urutan tertinggi dengan jumlah 460 ton per tahun.

Penggunaan obat-obatan kimia di daerah aliran Sungai Citarum Jawa Barat menjadi kajian penelitian BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional). Penelitian ini dilakukan mengingat dampaknya yang bisa membahayakan manusia dan lingkungan jika dibuang sembarangan.

Menurut peneliti BRIN, penggunaan obat-obatan kimia dan herbal di Daerah Aliran Sungai Citarum Hulu Jawa Barat tertinggi adalah Paracetamol dan amoxilin.

Peneliti Ahli Madya KelRis Ekotoksikologi Perairan Darat Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Rosetyati Retno Utami, mengungkapkan penggunaan Paracetamol di DAS Citarum mencapai 460 ton per tahun, dan amoxilin 336 ton.

Sementara untuk obat-obatan herbal yang paling tinggi penggunaannya adalah jahe sebesar 494 ton per tahun, kemudian oryza sativa atau padi sebesar 446 ton per tahun.

Menurut Rosetyati Retno Utami, hasil penelitian itu selaras dengan penggunaan obat-obatan herbal di tingkat Asia seperti Cina dan India, yang juga banyak menggunakan jahe dan beras sebagai obat tradisional.

Dia juga mengungkapkan, bahwa secara global penggunaan obat dalam skala rumah memang mengalami peningkatan setelah pandemi Covid-19.

Namun, menurut Rosetyati Retno Utami penangannya masih sangat kurang sehingga menimbulkan risiko pencemaran ekosistem akuatik atau lingkungan air.

"Jika terjadi kontaminasi di perairan atau ekosistem akuatik, tentu saja akan membahayakan bagi organisme akuatik dan kesehatan manusia," katanya sebagaimana dikutip dari situs brin.go.id, Selasa (16/7/2024).

Dari penelitiannya tersebut, Rosetyati Retno Utami menyimpulkan bahwa penggunaan obat-obatan kimia maupun herbal di DAS Citarum cukup tinggi.

Dan, hal tersebut seharusnya meningkatkan kewaspadaan karena masih banyak masyarakat membuang sisa obat-obatan tanpa mempertimbangkan efeknya terhadap lingkungan.

"Penggunaan konsentrasi APIs yang tinggi, khususnya paracetamol dan amoksilin sangat mungkin akan menimbulkan dampak terhadap badan air, khususnya di Sungai Citarum jika dibuang sembarangan," paparnya.

Rosetyati Retno Utami, menjelaskan jika penelitiannya tentang penggunaan obat-obatan kimia dan herbal di DAS Citarum Hulu merupakan bagian atau tahap pertama dari penelitian tentang “Quantify APIs usage among household in Citarum River Basin”.

Dia menjelaskan, tujuan utama dari penelitian tersebut untuk memprediksi seberapa banyak kontaminasi obat dari kegiatan manusia di suatu DAS, yang masuk ke badan air atau sungai.

Halaman:

Tags

Terkini

PWI Mengecam Pernyataan Hotman Paris Hutapea

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:45 WIB