Koboi Kalah Perang

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Kamis, 18 Juni 2026 | 08:47 WIB

Dalam politik internasional yang dipenuhi lelaki-lelaki tua berwajah serius sambil memamerkan rudal, Pakistan datang membawa barang yang tampak kuno: kesabaran.

Barangkali memang ada saat ketika diplomasi lebih mirip pekerjaan ibu-ibu RT ketimbang jenderal berbintang empat. Yang satu membagi ancaman. Yang lain membagi teh hangat agar orang berhenti saling lempar kursi.

Lalu bagaimana nasib Israel?

Inilah bagian yang membuat Benjamin Netanyahu sulit tidur nyenyak. Israel memperoleh kerusakan nyata terhadap musuh bebuyutannya. Namun ia tidak memperoleh kepastian bahwa ancaman itu benar-benar berakhir. Iran masih ada. Ambisi regional Iran belum sepenuhnya padam.

Kesepakatan damai ini bagi Tel Aviv mungkin seperti mencabut taring ular tanpa pernah yakin apakah bisa tumbuh kembali.

Olh karena itu, Israel akan terus menyimpan satu tangan di atas tombol darurat. Perdamaian boleh diumumkan. Tetapi rasa curiga tetap dipelihara seperti kaktus dalam pot: tidak indah dipandang, tetapi dianggap perlu untuk berjaga-jaga.

Pada akhirnya, perang ini mengajarkan satu hal yang sering dilupakan para pemimpin yang terlalu lama percaya pada tepuk tangan pendukungnya.

Pidato memang bisa menggelegar seperti toa masjid menjelang subuh. Tetapi kenyataan punya kebiasaan buruk: ia tidak pernah takut pada mikrofon.

Trump menjanjikan kemenangan mutlak. Iran menjanjikan perlawanan abadi. Israel menjanjikan keamanan total.

Keduanya, atau mungkin ketiganya, akhirnya bertemu di meja yang sama untuk mempelajari seni paling kuno dalam politik: bagaimana menjual kompromi kepada publik sebagai kemenangan.

Dan begitulah dunia bekerja. Para pemimpin berpidato tentang kejayaan peradaban. Para analis menggambar panah-panah di peta. Para jenderal memamerkan senjata mutakhir.

Lalu, setelah asap perang menipis, rakyat biasa kembali bertanya dengan polos: harga bensin jadi turun atau tidak?

Pertanyaan sederhana itu kadang lebih jujur daripada seluruh pidato kenegaraan.***

*Ahmadie Thaha ialah penulis dan kolumnis

Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Koboi Kalah Perang

Kamis, 18 Juni 2026 | 08:47 WIB
X