Koboi Kalah Perang

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Kamis, 18 Juni 2026 | 08:47 WIB

Baca Juga: Duta Besar Marc Gerritsen Akan Hadiri Menonton Bersama Piala Dunia 2026 di Ambon Antara Belanda Vs Swedia

Ternyata cuaca politik memang suka bercanda. Lalu siapa yang menang?

Pertanyaan itu mirip menanyakan siapa pemenang ketika dua tetangga bertengkar memakai parang lalu akhirnya bertemu di Puskesmas yang sama. Yang satu kehilangan gigi. Yang lain kehilangan telinga. Keduanya pulang membawa resep obat.

Iran, dalam ukuran tertentu, memperoleh apa yang tak dimilikinya awal tahun ini: daya tawar.

Rezim yang diperkirakan ambruk ternyata masih berdiri. Program nuklirnya belum benar-benar dikubur. Selat Hormuz terbukti bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan keran oksigen ekonomi dunia.

Iran seperti pemilik warung kopi kecil yang ternyata menguasai sakelar listrik satu kampung. Ketika lampu dipadamkan, semua orang baru sadar bahwa selama ini mereka terlalu meremehkan posisi meja kasir.

Tetapi jangan pula tergoda mengarak Iran sebagai juara. Negeri para penyair itu tetap membawa luka. Infrastruktur militernya porak-poranda. Ekonominya compang-camping. Generasi mudanya masih dibebani represi politik.

Menang dalam diplomasi tidak otomatis berarti hidup rakyat menjadi lebih murah. Sejarah penuh dengan negara yang menang perang tetapi kalah menghadapi harga beras.

Amerika sendiri tidak pulang dengan tangan kosong. Selat Hormuz dibuka kembali. Harga energi mungkin mereda. Trump dapat menjual kisah bahwa Iran berhasil dipaksa berunding. Namun, barang paling mahal yang hilang justru tak bisa dibeli di toko mana pun: wibawa.

Dunia melihat negara adidaya itu seperti petinju kelas berat yang naik ring dengan lampu sorot, musik menggelegar, dan iklan sponsor bertebaran. Lawannya petinju kelas menengah.

Penonton mengira pertandingan selesai dalam dua ronde. Ternyata ronde demi ronde berlalu. Napas mulai tersengal. Pelatih mulai panik. Sampai akhirnya pertandingan dihentikan wasit melalui keputusan angka.

Petinjunya memang tidak kalah KO. Tetapi penonton pulang sambil berbisik, "Katanya Mike Tyson. Kok jadinya Tyson ayam?"

Yang menarik justru Pakistan. Selama ini Pakistan sering dipandang dunia seperti sepupu jauh yang diundang ke pesta hanya karena sungkan.

Kadang diabaikan, kadang dicurigai, kadang baru dicari ketika keadaan darurat. Tetapi kali ini, Perdana Menteri Shehbaz Sharif justru tampil seperti mak comblang paling sabar di kampung.

Ia mondar-mandir membawa pesan. Menenangkan ego. Membujuk pihak yang ngotot. Menyambung telepon yang tak kunjung berhenti berdering.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Koboi Kalah Perang

Kamis, 18 Juni 2026 | 08:47 WIB
X