pesona-kuliner

Sejarah lengkap Museum Bahari Jakarta yang kini berusia 46 tahun

Minggu, 9 Juli 2023 | 10:39 WIB
Museum Kebaharian Jakarta di Penjaringan Jakarta Utara. (Instagram @williamkwanhwieliong)

WartaPesona.com - Museum Bahari Jakarta atau museum kebaharian yang kini genap berusia 46 tahun, punya sejarah panjang sejak zaman kolonial Belanda.

Museum Bahari Jakarta yang semula merupakan gudang rempah-rempah milik Belanda tersebut dibangun secara bertahap sejak tahun 1718.

Belanda membangun gedung yang kini menjadi Museum Bahari Jakarta itu sebagai gudang untuk menyimpan, memilah, dan mengemas rempah-rempah.

Seperti diketahui, Belanda menduduki Indonesia selama ratusan tahun untuk mengeksploitasi hasil bumi Nusantara yang sangat berharga di dunia, utamanya rempah-rempah.

Baca Juga: Kawasan industri perfilman Jababeka Movieland Cikarang diresmikan, Sandiaga Uno punya harapan begini

Dilansir dari laman Dinas Kebudayaan DKI, sebelum dibangun gudang itu sebenarnya sudah ada bangunan bekas Bastion Culemborg yang dibangun tahun 1645.

Pembangunan Bastion Culemborg itu bersamaan dengan pembuatan tembok keliling Kota Batavia di tepi barat.

Bangunan Menara Syahbandar yang ada hingga sekarang, sebenarnya menempati bekas Bastion Culemborg tersebut.

Sebelum dibangun Menara Syahbandar, fungsi menara pemantau juga sudah ada di dekat Bastion Culemborg dengan bentuk tiang menara, yang di atasnya terdapat pos jaga petugas.

Baca Juga: Indahnya Pulau Batanta Raja Ampat, dari pantai berpasir putih, mangrove, hingga biota laut dan anggrek langka

Menara yang pendek di sebelah timur dibangun pada tahun 1839, untuk menyimpan jam atau chronometer yang sangat akurat.

Di atapnya didirikan sebuah sinyal waktu yang dapat dilihat dari jauh. Dari sinyal inilah anak kapal bisa menyesuaikan jam kapal mereka.

Pada zaman itu, waktu tetap sangat dibutuhkan oleh pelayar untuk menentukan posisinya selama perjalanan di laut.

Tetapi, aktivitas lain di dalam menara mengganggu chronometer yang sangat sensitif itu, dan pada awal tahun 1850-an Belanda membangun lagi menara kedua yang lebih tinggi.

Menara Uitkijk atau kawal, atau Menara Syahbandar ini berfungsi untuk mengawasi kapal-kapal di pelabuhan, dan untuk berkomunikasi dengan kapal-kapal dengan menggunakan bendera atau tanda lain yang dipasang di atas menara.

Baca Juga: Musabaqah Qiraatil Kutub Nasional MQKN 2023 digelar 11 Juli, sesuai zaman akan berlangsung serba digital

Bangunan ini berfungsi pula sebagai menara pengawas dan pengatur lalu lintas bagi kapal-kapal yang keluar-masuk Kota Batavia lewat jalur laut.

Selain itu, juga berfungsi sebagai kantor pabean untuk mengumpulkan pajak atas barang-barang yang dibongkar di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Di ruang paling bawah menara itu, dahulu digunakan pula sebagai penjara bagi para ABK yang tertangkap mencuri di kapal.

Di ruangan ini ABK yang tertangkap mencuri di kapal dikurung paling lama dua bulan.

Meski tidak disiksa, para ABK yang dikurung banyak yang terkena sakit kuning akibat kondisi ruangan yang sempit dan pengap.

Baca Juga: Sentimen Positif Gen Z dan Millennial Meningkat untuk Prabowo dan Erick Thohir

Setelah pembangunan Pelabuhan Tanjung Priuk selesai pada tahun 1886, menara pengawas ini mulai berkurang perannya.

Selama ratusan tahun Belanda berkuasa di Batavia itu, hingga pada akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tahun 1942.

Gudang rempah milik Belanda pun menjadi milik Jepang, dan fungsinya beralih menjadi gudang logistik tentara negara berlambang matahari tersebut.

Kemudian setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, tentu saja gudang itu pun kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Bangunan ini dimiliki oleh PLN dan PTT (Pos Telkom dan Telegram) sejak tahun 1945 hingga 1976.

Baca Juga: Pakaian adat khas Papua, simbol kekayaan alam dan budaya

Pasca kemerdekaan Indonesia itu, tepatnya pada tahun 1950 bekas bangunan gudang rempah ini dijadikan sebagai kantor atau pos kepolisian Penjaringan.

Pada tahun 1972, bangunan bekas gudang rempah yang kini menjadi Museum Bahari Jakarta dan Menara Syahbandar, ditetapkan sebagai bangunan bersejarah oleh Gubernur DKI waktu itu, Ali Sadikin.

Lalu pada tahun 1976, Museum Bahari untuk pertama kalinya dilakukan pemugaran. Dan, pada tanggal 7 Juli 1977 kedua bangunan tersebut diresmikan oleh Gubernur DKI, Letjen Marinir Ali Sadikin sebagai Museum Bahari Jakarta.

Gedung Museum Bahari Jakarta kemudian ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya pada tahun 1993. ***(KKT)

Tags

Terkini

Ada Festival Iraw Tengkayu di Kalimantan Utara

Sabtu, 4 Juli 2026 | 06:18 WIB