Seperti diketahui, puluhan organisasi kepemudaan berdiri sebagai respon berdirinya Perkumpulan Budi Utomo, yang menginspirasi para pemuda untuk bergerak mencapai kemerdekaan melalui organisasi intelektual.
Namun, saat itu organisasi-organisasi pemuda masih bersifat kedaerahan. Misalnya, Jong Java, Jong Ambon, dan organisasi berbasis Islam seperti Hizbul Wathan, dan banyak lagi.
Di Ruang 2 ini juga terdapat media interaktif berupa buku digital, yang setiap lembarnya menyajikan keterangan terkait organisasi-organisasi pemuda.
Ruang 3: Pemuda Bergerak
Ruang ketiga ini berisi sejarah awal dimulainya Kongres Pemuda I pada 30 April-2 Mei 1926.
Terdapat foto-foto peserta kongres, susunan kepanitian, dan lainnya. Dalam catatan sejarah di museum, peserta kongres terdiri dari 11 organisasi pemuda dari berbagai daerah.
Selain itu, juga ada informasi terkait berdirinya Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia (PPPI) di gedung museum.
Ruang 3 ini juga dilengkapi sejumlah patung, sebagai ilustrasi yang menggambarkan suasana rumah kost pada waktu itu.
Kemudian, juga ada surat undangan kongres yang dibuat dengan batu marmer berukuran besar di dinding ruangan ini.
Baca Juga: Mulai 1 Januari 2025 Rumah Tangga di DKI Jakarta akan dikenai retribusi sampah, besarannya segini
Ruang 4: Pemuda Bersatu dalam Sumpah Pemuda
Ruangan ini menjadi zona inti di Museum Sumpah Pemuda. Saksi bisu berlangsungnya Kongres Pemuda II yang menghasilkan keputusan penting dan bersejarah, ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Dalam catatan sejarah, Kongres Pemuda II ini berlangsung selama 6 jam sejak pukul 17.30 hingga 23.30 WIB.
Ruang 5: Pemondokan Kramat 106
Ruangan ini menceritakan sejarah gedung Museum Sumpah Pemuda, jauh sebelum menjadi rumah kost para mahasiswa.
Baca Juga: Hari Raya Idulfitri 2025, Pemprov Jateng tambah kuota mudik gratis, titik kumpul diperluas
Terdapat diorama keluarga Sie Kong Lian yang merupakan pemilik awal gedung tersebut, dan ruangan ini terdiri dari dua bagian.