Bahkan, juga masih bisa disaksikan sebuah prasasti batu marmer yang ditulis dalam bahasa Belanda.
Baca Juga: Jawa Timur penyumbang terbanyak Donor Darah Sukarela 100 kali, jumlahnya 600 orang
Sementara itu, pengaruh Islam terlihat dari bentuk atapnya yang melengkung seperti yang banyak ditemui di sejumlah bangunan-bangunan khas Timur Tengah.
Di bangunan induk Istana Maimun juga masih ada sebuah ruangan besar dengan tahta kuning, yang pada zamannya digunakan sebagai tempat upacara penobatan Sultan Deli.
Mengunjungi Istana Maimun ini, wisatawan akan dibuat kagum dengan berbagai keunikan bangunan, serta ragam ornamen khas masa jaya Kesultanan Deli.
Wisatawan juga akan dibuat terhipnotis dengan alunan musik khas Melayu, yang dimainkan oleh sekelompok pemusik di depan ruang Istana Maimun.
Sementara sebagai sebuah kerajaan besar, Istana Maimun ini juga punya peninggalan alat perang yang disebut Meriam Puntung.
Meriam yang masih dikeramatkan ini berada di sebuah bangunan rumah kecil bergaya adat Karo. Letaknya di sudut depan halaman Istana Maimun.
Baca Juga: Masih banyak daerah tak maksimal manfaatkan dana bantuan pesantren, Kemenag ingatkan hal ini
Meriam Puntung ini hanya menyisakan sebagian besar badan, tanpa moncong di ujungnya.
Konon, moncong dari meriam ini patah karena seringnya menembakkan peluru saat perang besar melawan Kerajaan Aceh.
Hikayat setempat menceritakan, moncong dari meriam ini jatuh di Tanah Karo, tepatnya di sebuah kampung bernama Sukanalu.
Baca Juga: Inilah Si Burung Garuda maskot baru Timnas Indonesia bernama Shakti, kereen!
Tentu saja, wisatawan yang berkunjung ke Istana Maimun ini juga bisa mencicipi kuliner khas Medan Sumatera Utara yang banyak disediakan oleh pelaku UMKM setempat. ***(KKO)