“Halo panitia! Ambil ini, bawa ke sana, ambil tasmu, bawa ke sana, kita tidak terima laki-laki atau perempuan harus salah satunya, baru diterima,” ujar si bapak dosen kembali.
Proses interogasi yang viral di Twitter lantas menimbulkan beragam reaksi. Ada yang pro ada juga yang kontra.
“Pemikiran manusia itu liar, perlu ada pembatasan untuk keliaran pikiran. Pembatasan itu bisa dari Norma hukum, dogma, atau ajaran agama, atau norma yang ada di masyarakat. Kalau dibiarkan liar. Kacau jadinya dengan dalih "open minded",” ujar @mulyadif16, yang pro pada dosen Unhas.
Meski tidak setuju dengan keyakinan mahasiswa itu, warganet yang kontra cenderung menyayangkan sikap para dosen Unhas.
“Masalah utama di sini adalah sikap dosen yang kasar dan arogan. Tidak boleh memperlakukan siswa seperti itu di depan umum hanya karena dia memiliki keyakinan yang berbeda pada sesuatu,” ujar @_adinuansah.
“Dosen harus menyadari bahwa mahasiswa datang ke perguruan tinggi karena dia ingin belajar. Dia membutuhkan bimbingan bukannya sikap yang kasar,” ujarnya lagi di cuitan berbeda.*** (Siti Aisah Nurhalida Musthafa/Pikiran-Rakyat.com)(SA)