3. Berani dan Mandiri
Mengenalkan anak secara perlahan mengenai tekstur benda misalnya, membuat anak berani untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Anak tidak akan takut untuk menginjak rumput, merasakan berbagai macam tekstur makanan, hingga bermain dengan air.
Baca Juga: 5 Tips Bisnis Agar Mencapai Kesuksesan Ala Nabi Muhammad SAW
Rasa takut dan cemas yang sedikit, perlahan akan membuat anak semakin mandiri menjalani aktivitasnya sehari-hari, sesederhana mampu untuk memegang sendok dan menyuap makan sendiri.
4. Mampu Berpikir Kritis dan Menyelesaikan Masalah
Selain perasaan senangnya bermain yang dirasakan anak, melalui metode ini, anak juga dituntut untuk dapat sabar dan berpikir dengan jernih mengenai pemecahan masalah yang harus dilakukan agar permainan tersebut bisa “dinikmati”.
Seperti menyusun puzzle, kemenangan akan muncul setelah anak berusaha memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan tantangan yang ada di dalam permainan.
5. Mengetahui Potensi Diri
Baca Juga: Simak Sejarah Singkat Hingga Kandungan dalam Al Quran
Anak memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi hal apa yang ia sukai, permainan apa yang paling ingin ia mainkan.
Perlahan-lahan, secara progresif, orang tua dan anak dapat mengetahui minat serta potensi dalam diri anaknya.
Perlu diingat, meski Montessori terdengar seperti metode yang “bebas”, tentu dalam mendidik anak selalu memerlukan pembimbingan penuh dari orang tua dan kurikulum yang disusun dengan baik sesuai usia anak.
Seperti Rayyanza yang terlihat menyukai “kamera” , kira-kira anak kita punya bakat terpendam di bidang apa ya? Yuk, cari tahu! (VS)
Penulis : Veronica Septiyani