gaya-hidup

Belum Mandi Wajib Saat Puasa, Puasanya Jadi Sah atau Tidak ?

Senin, 27 Maret 2023 | 14:29 WIB
Illustrasi. Manfaat, tatacara dan niat mandi puasa ramadhan | wartapesona.com (Foto : Freepik.com)

WartaPesona.comWartaPesona.com kali ini akan membahas bagaimana hukumnya bagi seseorang yang jika dalam kondisi junub atau berhadats besar lalu tertidur hingga pagi tanpa menyempatkan sahur dan mandi junub atau mandi wajib saat puasa?

Dilansir dari situs islam.nu.or.id, kejadian ini bukanlah merupakan suatu hal yang baru. Bahkan telah ada dalil hukumnya semenjak zaman Rasulullah SAW. Simak penjelasannya sebagai berikut.

Berdasarkan riwayat kedua dari hadist yang menceritakan pengalaman Rasulullah SAW, diceritakan kala itu Rasulullah SAW masih dalam kondisi junub di pagi hari puasa karena setelah melakukan jimak dengan istri beliau.

Baca Juga: Menikmati Suasana Ramadhan yang Mendalam di Makam Surgi Mufti:Destinasi Wisata Religi yang Penuh Makna

Setelah itu, Rasululah SAW langsung menyegerakan untuk mandi wajib saat puasa dan melanjutkan berpuasa.

عن عائشة وأم سلمة رضي الله عنهما "أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ ثُمَّ يَغْتَسِلُ ويَصُومُ" متفق عليه وزاد مسلم في حديث أم سلمة "وَلَا يَقْضِي

Artinya, “Dari Aisyah RA dan Ummu Salamah RA, Nabi Muhammad SAW pernah berpagi hari dalam kondisi junub karena jimak, kemudian beliau mandi, dan terus berpuasa,” (HR Muttafaq Alaih).

Selain itu, dalam keterangan lain dari Imam Muslim dalam riwayat dari Ummu Salamah RA menyebutkan jika Rasulullah SAW tidak mengqadha atau mengganti puasa tersebut.

Baca Juga: Kelezatan Putu Mangkok,Sajian Istimewa Ramadhan dari Kepulauan Riau, Berikut Resepnya

Jelasnya, Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki menjelaskan makna isyarat dari perbuatan Rasulullah SAW untuk tidak mengqadha atau mengganti puasa tersebut sebagai isyarat jika puasa yang sedang dijalani oleh Rasulullah SAW pada hari tersebut tidak berkurang satupun.

ولا يقضي أ ي صوم ذلك اليوم لأنه صوم صحيح لا خلل فيه

Artinya, “’ Rasulullah SAW tidak mengaqadha’ maksudnya adalah tidak mengqadha puasa hari tersebut di bulan lainnya karena puasanya hari itu tetap sah tanpa cacat sedikitpun di dalamnya,”
Penjelasan ini mengutip dari pendapat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki dalam kitab Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 312.

Baca Juga: Mimpi Basah pada Siang Hari saat Berpuasa Ramadhan: Apakah Batal dan Perlu Membayar Utang Puasa?


Disimpulkan dari hadits ini Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki menjelaskan jika orang yang berhadats besar boleh menunda mandi junub hingga pagi hari.

جواز تأخير الغسل من الجنابة للصائم إلى ما بعد طلوع الفجر والأفضل التعجيل بالغسل قبل الفجر

Artinya, “Orang yang berpuasa boleh menunda mandi junub hingga waktu setelah fajar terbit. Tetapi yang lebih utama adalah ia menyegerakan mandi wajib sebelum terbit fajar atau sebelum Subuh".

Penjelasan ini mengutip pendapat dari Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, dalam kitab Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 313.

Baca Juga: Serial Sajadah Panjang: Sujud dalam Doa Kembali Hadir di Ramadhan Kali Ini

Dari penjelasan singkat ini, dapat diambil kesimpulan jika dalam keadaan janabah yang tertidur hingga pagi hari sehingga lupa mandi junub atau mandi wajib saat puasa, tetap harus terus melanjutkan ibadah puasanya.

Baginya cukup mandi junub lalu melanjutkan puasa hingga matahari tenggelam.

Puasanya terbilang sah dan tidak perlu untuk mengqadhanya. Islam membolehkan orang yang junub untuk menunda mandi wajibnya di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan.

Tetapi disarankan bagi orang yang junub untuk menyegerakan melakukan mandi wajib saat puasa agar badannya segera suci dan menjalani ibadah puasa dengan sempurna. ***(MAA)

Penulis : Muhammad Akhsanul Akhlaq

Tags

Terkini