Ia bahkan mengakui bahwa secara mental dirinya masih terjebak pada fase usia remaja.
“Aku tidak bisa move on dari golden age saat masih 19 tahun,” tegasnya.
Baca Juga: Dari Kejar Penjambret hingga Bebas, Perjalanan Kasus Hogi Minaya yang Akhirnya Dihentikan
Mengenal Sindrom Peter Pan
Sindrom Peter Pan pertama kali diperkenalkan oleh psikolog asal Amerika Serikat, Dr. Dan Kiley, melalui bukunya The Peter Pan Syndrome: Men Who Have Never Grown Up yang terbit pada 1983.
Sindrom ini bukan diagnosis medis resmi, melainkan istilah psikologis untuk menggambarkan pria yang mengalami kesulitan dalam menghadapi tanggung jawab dan realitas kedewasaan.
Individu dengan sindrom ini cenderung menghindari komitmen, tanggung jawab jangka panjang, serta sulit mengelola emosi secara matang.
Menurut Kiley, sindrom Peter Pan terbentuk dari berbagai faktor, terutama pola asuh dan dinamika keluarga sejak masa kanak-kanak.
“Ayah memiliki peran kunci dalam pertumbuhan dan perkembangan putra mereka,” tulis Kiley, sebagaimana dikutip dari The Fifth Medium.
Ia menjelaskan bahwa anak laki-laki membutuhkan bimbingan, disiplin, dan figur teladan dari ayah untuk memahami batasan, tanggung jawab, serta perilaku emosional dan sosial yang sehat.
Ketika Peran Orang Tua Tidak Seimbang
Dalam analisanya, Kiley menilai bahwa absennya figur ayah, baik secara fisik maupun emosional, dapat berdampak signifikan pada perkembangan anak laki-laki.
Ayah yang dingin, acuh, atau tidak terlibat akan membuat anak kehilangan figur rujukan dalam membangun kedewasaan.
Dalam kondisi tersebut, anak laki-laki cenderung beralih kepada ibu. Namun, jika sang ibu justru terlalu protektif atau memanjakan, hal ini bisa menghambat pembentukan kemandirian dan disiplin diri.