WartaPesona.com – Bulan September kerap dijuluki sebagai periode yang tidak bersahabat bagi pasar saham global, sebuah fenomena yang dikenal dengan istilah September Effect, di mana secara historis indeks saham, khususnya di Amerika Serikat, sering kali mencatat kinerja lebih buruk dibanding bulan lainnya.
Data historis menunjukkan bahwa rata-rata indeks S&P 500 sejak 1928 hingga 2023 cenderung turun di bulan ini, meskipun median hasilnya justru menunjukkan angka positif dalam beberapa tahun terakhir, sehingga para ekonom menilai tren ini lebih menyerupai anomali statistik ketimbang kepastian pasar.
Baca Juga: Generasi Milenial Kian Sadar Dana Darurat, Warisan Berharga dari Krisis Ekonomi 2008
Menurut laporan Investopedia yang dikutip pada Jumat, 5 September 2025, investor yang bertaruh melawan September selama satu abad terakhir memang mendapatkan keuntungan, tetapi jika analisis dipersempit sejak 2014, hasilnya justru berbalik merugikan, menandakan periode waktu yang dipilih sangat memengaruhi kesimpulan.
Sejumlah teori menyebutkan September Effect muncul karena investor kerap kembali dari liburan musim panas untuk mengamankan keuntungan, menjual saham demi biaya sekolah anak, atau akibat kebiasaan institusi besar seperti reksa dana yang menutup kuartal ketiga dengan melepas saham agar terlihat mencatat laba.
Namun, sebagian pakar menilai dampak fenomena ini semakin berkurang sejak 1990-an karena para trader modern yang sudah menyadari pola tersebut cenderung mengambil langkah lebih awal, misalnya menjual saham di bulan Agustus sehingga tekanan di September tidak lagi sebesar dulu.
Oleh sebab itu, meski September sering dipandang sebagai bulan yang lemah bagi pasar, banyak ekonom menegaskan bahwa fenomena ini tidak bisa dijadikan pedoman mutlak untuk mengambil keputusan investasi, melainkan hanya catatan historis yang lebih dekat dengan mitos pasar dibanding kenyataan mutlak.***