berita

Erick Thohir dan Gus Miftah Bersatu dalam Doa untuk Persatuan Bangsa

Sabtu, 12 Agustus 2023 | 08:19 WIB
Erick Thohir & Gus Miftah berdoa untuk persatuan Indonesia. Mewaspadai pandangan radikal & memelihara perbedaan demi kesatuan. | WartaPesona.com



WartaPesona.com
- Menteri BUMN, Erick Thohir, dan Mubaligh Miftah Maulana Habiburrahman, yang biasa disapa Gus Miftah, telah melakukan sebuah doa bersama.

Keduanya berdoa dengan harapan agar kesatuan bangsa Indonesia tetap terpelihara.

"Setelah melaksanakan salat Jumat, kami bersama-sama menyelawat dengan Gus Miftah di Masjid At-Thohir, kami berdoa untuk menjaga persatuan dan ikatan bangsa Indonesia," kata Erick di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, pada Jumat (11/08/2023).

Mereka berdua hadir di Masjid At-Thohir dalam acara Kajian Umum dengan tema 'Mempertahankan Kesatuan melalui Solidaritas Bangsa'.

Pada saat itu, ribuan jamaah dari Masjid At-Thohir juga turut hadir.

Baca Juga: Erick Thohir Mendorong Penyelesaian Klaim Asuransi Jiwasraya bagi Pemegang Polis

Erick juga mengucapkan terima kasih kepada Gus Miftah atas kehadirannya di Masjid yang didirikan untuk mengenang Almarhum Muhammad Thohir.

"Terima kasih, Gus, telah meluangkan waktu untuk berbagi ilmu di masjid kami. Dengan nama Allah, semoga Indonesia menjadi tempat yang damai, tenang, dan optimis," ujarnya.

Sementara itu, dalam ceramahnya, Gus Miftah mengajak warga Indonesia untuk tetap waspada terhadap mereka yang menganut paham radikal.

Hal ini penting karena penganut radikalisme sering tidak mendukung harmoni antara berbagai agama dan suku bangsa yang telah berkembang di Indonesia.

Mubaligh dan pemimpin Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta ini menjelaskan tentang lima ciri orang yang memiliki pandangan radikal.

Ciri pertama adalah ketidakmampuan menerima perbedaan pendapat, pandangan, atau sikap (khilafiyah).

Misalnya, terkait dengan tata cara sholat seperti tahiyat atau doa qunut.

Baca Juga: Tempo Mengutarakan Permintaan Maaf kepada Erick Thohir

"Padahal, keempat imam mazhab: Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali memiliki pendapat yang berbeda-beda.

Anda bisa memilih untuk mengikuti imam mana yang Anda suka. Salah satu imam bahkan menekankan untuk mengikuti imam yang sesuai dengan tempat kita beribadah," jelas Gus Miftah.

Ciri kedua orang yang memiliki pandangan radikal, menurut Gus Miftah, adalah kurang memiliki dasar ilmu pengetahuan.

Namun, mereka sering menggunakan alasan Alquran dan Hadis dalam argumennya.

"Sebagai contoh, ada yang menganggap bahwa siapa pun yang menyanyikan lagu 'Padamu Negeri' adalah musyrik.

Padahal, menyanyikan lagu tersebut merupakan bentuk cinta pada Tanah Air, bukan ibadah," tambahnya.

Gus Miftah mengutip contoh dari Rasulullah saat meninggalkan Makkah, dimana Beliau berdoa sambil menangis di atas bukit, "Demi Allah, Engkau adalah kota yang paling aku cintai, wahai Makkah."

Dan ketika Beliau tiba di Madinah, Beliau berdoa, "Ya Allah, anugerahkanlah kepada ku kota Madinah sebagaimana aku mencintai Makkah."

Baca Juga: Sikap Empati Erick Thohir Terhadap Korban Kanjuruhan: Elegan dan Penuh Kasih

Gus Miftah menggambarkan hal ini sebagai contoh nyata bahwa Rasulullah juga sangat mencintai tanah airnya.

Makkah adalah tempat di mana Nabi Muhammad dilahirkan, tumbuh, berjuang, dan akhirnya wafat.

Ciri ketiga yang dimiliki oleh mereka yang memiliki pandangan radikal adalah eksklusivitas, yaitu merasa bahwa hanya dirinya yang memiliki kunci menuju surga, dan kelompok lain dianggap salah.

Ciri keempat adalah ketidaksetujuan terhadap Pancasila.

Menurut Gus Miftah, mereka menganggap Pancasila sebagai bid'ah, dan mencintai Madinah hanya karena ingin menjadi serupa dengan Rasulullah.

Ciri kelima orang yang memiliki pandangan radikal, menurut Gus Miftah, adalah memiliki sikap bermusuhan terhadap orang yang berbeda agama.

"Namun, Nabi sendiri menghormati jenazah seorang Nasrani, karena menurutnya, kita semua adalah ciptaan Allah," tambahnya.

Baca Juga: Pahlawan di Balik Layar: Kurnia Meiga Mengucapkan Terima Kasih pada Erick Thohir setelah 6 Tahun Berjuang

Gus Miftah menegaskan bahwa perbedaan seharusnya tidak menjadi sumber konflik. Yang harus dijaga adalah agar tidak terjadi perpecahan.

Tags

Terkini