WartaPesona.com - Tanaman eceng gondok saat ini lebih sering dianggap organisme pengganggu alias gulma yang merugikan.
Si Jelita hijau berwarna bunga ungu bernama eceng gondok, kini disingkiri karena pertumbuhannya yang cepat bisa merepotkan.
Tanaman eceng gondok ini punya kemampuan tumbuh pesat di perairan yang mengandung banyak nutrien.
Dalam waktu 7-10 hari, tanaman eceng gondok ini bisa berkembang biak menjadi dua kali lipat banyaknya.
Laju pertumbuhannya yang cepat ini membuat tanaman eceng gondok yang semula sebagai tanaman hias menjadi gulma perairan.
Baca Juga: Strategi Bakal Cawapres sebagai Penentu Kemenangan: Temuan Ipsos Public Affairs
Dalam jumlah yang tidak terkendali, tanaman eceng gondok bisa berdampak negatif terhadap lingkungan.
Dilansir dari laman faperta.untirta.ac.id, dampak negatif banyaknya tanaman eceng gondong di perairan seperti waduk, antara lain bisa mempercepat pendangkalan.
Kemudian bisa mengambil ruang dan unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh ikan, dan mempersulit saluran irigasi, bahkan menyumbat.
Selain itu, juga bisa menghalangi lalu lintas perahu, dan menjadi media penyebaran penyakit.
Eceng gondok dalam jumlah banyak juga bisa menyebabkan penguapan air 3-7 kali lebih besar dari penguapan air di perairan terbuka.
Sementara itu, pengendalian pertumbuhan tanaman eceng gondok ternyata juga sulit dilakukan, baik secara mekanik, biologi, maupun kimiawi.
Baca Juga: Kesederhanaan bisa jadi kunci kesuksesan di era serba modern ini, 5 tips berikut bisa dicoba
Namun, tanaman eceng gondok ini punya banyak manfaat. Salah satunya bisa diolah menjadi biogas.