berita

Peringatan Hari Pramuka ke-62 Tahun 2023, begini sejarahnya sejak zaman penjajahan Belanda

Kamis, 13 Juli 2023 | 09:57 WIB
Ilustrasi kegiatan Gerakan Pramuka di Yogyakarta. (pramukadiy.or.id)

WartaPesona.com - Kwartir Nasional Gerakan Pramuka akan menggelar upacara bendera memperingati Hari Pramuka ke-62 Tahun 2023, di Lapangan Utama Bumi Perkemahan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur Jakarta Timur, 14 Agustus mendatang.

Dalam upacara peringatan Hari Pramuka ke-62 Tahun 2023 di Buperta Cibubur Jakarta Timur, 14 Agustus nanti, dijadwalkan Presiden Joko Widodo akan hadir sebagai Ketua Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka.

Sementara itu di berbagai daerah, Hari Pramuka ke-62 Tahun 2023 dimeriahkan dengan berbagai acara, seperti Festival Pramuka Jogja yang akan berlangsung pada Sabtu (15/7).

Baca Juga: Gagal jadi tuan rumah event internasional, Sandiaga Uno siapkan langkah pulihkan citra Indonesia

Peringatan Hari Pramuka pada setiap tanggal 14 Agustus, merujuk pada peristiwa rapat besar Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas) Gerakan Pramuka, pada tanggal 14 Agustus 1961.

Gerakan Pramuka merupakan peleburan dari puluhan organisasi kepemudaan dari seluruh Indonesia, yang muncul sejak tahun 1912.

Pada awalnya sejarahnya, Belanda membuat organisasi kepemudaan yang diberi nama Nederlandesche Padvinders Organisatie (NPO).

Pada tahun 1916, NPO kemudian berubah nama menjadi Nederlands Indische Padvinders Vereniging (NIVP), dan di tahun yang sama KGPAA Mangkunegara VII membentuk organisasi serupa yang diberi nama Javaansche Padvinder Organisatie (JPO).

Baca Juga: Potensi pelanggaran Pemilu 2024, dari politik uang digital hingga ancaman serangan siber, dan phising

JPO bentukan Mangkunegara VII itu menjadi yang pertama di Indonesia, dan memicu gerakan nasional lainnya untuk membuat organisasi serupa.

Muncullah Hizbul Wahton (HM) pada 1918, JJP (Jong Java Padvinderij) pada 1923, Nationale Padvinders Organisatie (NPO), Nationaal Indonesische Padvinderij (NATIPIJ), dan Pandoe Pemoeda Sumatra (PPS).

Pada tahun 1926, JIPO dan NPO bergabung menjadi satu menjadi Indonesische Padvinderij Organisatie (INPO).

Munculnya banyak organiasi kepemudaan Indonesia membuat gerah pemerintah kolonial Belanda, yang kemudian melarang penggunaan istilah padvinderij.

Karena itu, KH Agus Salim kemudian memperkenalkan istilah Pandu atau Kepanduan untuk organisasi kepemudaan milik Indonesia.

Halaman:

Tags

Terkini