WartaPesona.com - Istilah hujan asam mengacu pada hujan yang memiliki tingkat keasaman yang tinggi atau pH rendah.
Hujan asam ini terjadi ketika polutan yang dihasilkan oleh aktivitas manusia, seperti emisi industri dan transportasi, bereaksi dengan uap air di atmosfer dan kemudian turun sebagai hujan, salju, embun, atau partikel-partikel terlarut.
Hujan asam disebabkan oleh emisi gas-gas yang mengandung sulfur dioksida (SO2), dan nitrogen dioksida (NO2) ke atmosfer.
Sumber utama emisi ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara dan minyak bumi, dalam proses industri dan transportasi.
Baca Juga: Memahami gerhana matahari, cara melihat dan risiko pada penglihatan mata
Ketika gas-gas ini terlepas ke atmosfer, mereka berinteraksi dengan oksigen dan uap air, membentuk senyawa seperti asam sulfat (H2SO4), dan asam nitrat (HNO3).
Selanjutnya, senyawa-senyawa ini dapat bereaksi dengan partikel-partikel lain dalam udara dan akhirnya turun ke bumi sebagai hujan asam.
Hujan asam memiliki dampak yang merugikan terhadap lingkungan di berbagai aspek.
Hujan asam dapat merusak tanaman, merusak daun, menghambat pertumbuhan, dan mengganggu ekosistem hutan.
Baca Juga: Apa itu hari tasyrik, amalan dan larangan selama Perayaan Idul Adha
Asam sulfat dan asam nitrat yang terlarut dalam hujan dapat merusak permukaan daun, menghambat proses fotosintesis, dan mempengaruhi ketersediaan nutrisi bagi tumbuhan.
Hal ini dapat menyebabkan penurunan populasi flora dan fauna, yang bergantung pada hutan, serta mengganggu keselarasan ekosistem.
Hujan asam juga dapat mencemari dan mengasamkan sumber air, termasuk sungai, danau, dan waduk.
Tingkat keasaman yang tinggi dapat mengancam kehidupan akuatik, seperti ikan, amfibi, dan plankton.