“Trump dan Netanyahu terlihat berbicara kepada warga Iran, disertai pesan yang mendesak mereka untuk ‘merebut kendali atas nasib sendiri’ dan bangkit melawan rezim yang berkuasa di Teheran,” tulis Iran International.
Baca Juga: 8 Penerima Beasiswa LPDP Dijatuhi Sanksi, Wajib Kembalikan Dana hingga Rp2 Miliar
Pesan Politik dan Rekaman Sensitif
Dalam cuplikan video yang beredar, muncul pula teks dan visual tambahan yang dinilai sangat provokatif.
Beberapa klip memperlihatkan rekaman serangan militer yang dikaitkan dengan operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap target-target strategis di Iran.
Pesan teks yang menyertai tayangan tersebut secara eksplisit menyerukan warga Iran untuk mengambil alih kendali dari pemerintahan saat ini.
Narasi yang dibangun seolah menegaskan bahwa perubahan hanya bisa terjadi melalui perlawanan rakyat terhadap rezim berkuasa.
Iran International menyebut, kemunculan tayangan tersebut bukan sekadar gangguan teknis, melainkan bentuk operasi psikologis yang dirancang untuk mengguncang legitimasi pemerintah Iran di hadapan rakyatnya.
Dinilai Sebagai “Penghinaan Besar”
Insiden peretasan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Beberapa hari sebelumnya, media internasional ramai memberitakan serangan militer yang dikaitkan dengan target strategis Iran.
Situasi kian sensitif lantaran peretasan tersebut terjadi tak lama setelah kabar wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026.
Dalam konteks tersebut, Iran International menyebut insiden peretasan siaran IRIB sebagai bentuk “penghinaan besar” terhadap otoritas dan simbol kedaulatan Iran.
Pasalnya, IRIB merupakan corong resmi pemerintah dan memiliki peran strategis dalam menyampaikan narasi negara kepada publik domestik.
Pemerintah Iran Masih Bungkam
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran maupun manajemen IRIB terkait dugaan peretasan tersebut.