WartaPesona.com - Desa-desa seperti Jamat dan Reje Payung menjadi contoh nyata betapa sulitnya mobilitas warga maupun relawan untuk keluar-masuk wilayah tersebut.
Hingga pertengahan Januari 2026, belum tersedia jembatan permanen yang aman, sehingga warga dan relawan terpaksa mengandalkan tali sling seadanya, jembatan darurat dari tali, serta menyusuri sungai Kala Ili dengan berjalan kaki.
Perjuangan Nakes ke Desa Jamat dan Reje Payung
Di tengah keterbatasan akses itu, para tenaga kesehatan (nakes) tetap berupaya menjalankan tugas kemanusiaan mereka.
Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan bagaimana rombongan nakes harus berjuang menembus medan ekstrem demi menjangkau warga yang membutuhkan layanan kesehatan.
Video tersebut diunggah oleh akun Instagram @lingkaran_gayo pada Selasa, 14 Januari 2026.
Dalam rekaman itu, terlihat para nakes berjalan kaki menyeberangi sungai dengan arus cukup deras dan ketinggian air hampir sepinggang orang dewasa.
Para nakes tampak saling bergandengan tangan, dibantu warga sekitar, untuk menjaga keseimbangan saat melintasi sungai.
Langkah demi langkah mereka tempuh dengan hati-hati, mengingat derasnya arus air yang dapat sewaktu-waktu menyeret siapa saja yang lengah.
Unggahan tersebut telah ditonton lebih dari 14 ribu kali dan menuai beragam respons dari warganet.
Banyak yang mengapresiasi dedikasi para nakes, sekaligus menyuarakan keprihatinan atas kondisi infrastruktur yang belum pulih pascabencana.
Masih Mengandalkan Tali Sling dan Jembatan Darurat
Selain berjalan langsung di aliran sungai, alternatif lain yang digunakan untuk menyeberang adalah tali sling yang dibentangkan dari satu sisi ke sisi lain sungai.
Warga secara bergantian membantu menarik dan menahan tali agar nakes dapat melintas dengan lebih aman.
Dalam video lain yang diunggah melalui akun TikTok @ikas.mida, salah satu nakes yang ikut dalam rombongan tersebut, terlihat pula kondisi jembatan tali darurat yang menjadi satu-satunya jalur penghubung ke desa lain.