Polda Metro Jaya dalam penyelidikannya menemukan tujuh bom di area sekolah, dua di antaranya meledak terlebih dahulu.
Kombes Henik Maryanto, Dansat Brimob Polda Metro Jaya, menjelaskan bahwa bom di lokasi pertama diaktifkan menggunakan remote control yang ditemukan di taman baca sekolah.
Di lokasi kedua, polisi menemukan bom pipa dengan kondisi meledak tidak sempurna, serta dua bom pipa logam yang masih aktif.
Satu bom lainnya ditemukan dalam casing kaleng minuman.
Pihak kepolisian memastikan bahwa terduga pelaku adalah seorang pelajar yang tergolong dalam kategori anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Pemeriksaan lanjutan akan dilakukan setelah kondisi kesehatannya membaik pascaoperasi.
Tantangan Pemerintah : Memulihkan Rasa Aman Sebelum Memulihkan Sistem Belajar
Insiden ini bukan hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga ketakutan berkepanjangan yang mempengaruhi keberlangsungan pendidikan di sekolah tersebut.
Gelombang permintaan pindah sekolah mencerminkan satu hal: kepercayaan publik terhadap sistem keamanan sekolah sedang berada di titik rendah.
Gubernur Pramono menegaskan pemerintah akan berupaya mengembalikan rasa aman para siswa dan orang tua sebelum mengambil keputusan jangka panjang.
“Keamanan anak-anak harus menjadi prioritas. Kita harus jaga agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi,” ujar Pramono. *****
Baca Juga: Ledakan SMAN 72 Jakarta : Dari Luka Fisik hingga Luka Sosial di Dunia Pendidikan Indonesia