WartaPesona.com - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menggelar forum pengelolaan destinasi wisata bahari berbasis pariwisata berkelanjutan di Manado, Sulawesi Utara, Kamis (26/9/2024).
Baca Juga: Garuda Muda Taklukkan Timor Leste 3-1, Langkah ke Puncak Grup F Kian Pasti
Acara ini menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus mengidentifikasi potensi "pariwisata biru" yang berfokus pada pelestarian laut dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Direktur Pengembangan Destinasi II Kemenparekraf, Bambang Cahyo Murdoko, menekankan pentingnya kolaborasi multi-stakeholder dalam menjaga ekosistem bahari dan mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat.
Baca Juga: Pelecehan Seksual di Dunia Nyata dan Medsos: Kasus Bernadya dan Penari Bali, Ini Bahaya Traumanya
"Masyarakat sebagai penggerak utama pariwisata perlu didukung dengan peningkatan kapasitas, khususnya dalam mengelola desa wisata bahari dan konservasi alam bawah laut," ujarnya saat memberikan sambutan di Desa Wisata Malalayang Dua.
Doli R. Korengkeng, Plh. Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Utara, juga mengapresiasi langkah ini. Ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat akan dampak negatif over tourism, terutama di Kota Manado yang berperan sebagai penyangga Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Likupang.
Baca Juga: Skandal Eks Menhub Singapura: Korupsi Tiket F1 dan Grand Prix, Begini Peran CPIB
Narasumber Sonny Tasidjawa dari Wildlife Conservation Society menyampaikan bahwa pelestarian lingkungan dan kearifan lokal bisa menjadi daya tarik wisata edukasi konservasi. Menurutnya, pemberdayaan masyarakat lokal adalah kunci pengembangan wisata alam yang inklusif dan berkelanjutan.
Irwan Thamrin dari wisatasekolah.com menambahkan bahwa penerapan standar pariwisata berkelanjutan, pengendalian jumlah pengunjung, dan pemantauan ekosistem sangat penting untuk menjaga daya dukung alam.
Ia juga menekankan peran komunitas lokal dalam perlindungan serta pemanfaatan sumber daya laut.
Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk pengelola desa wisata, pelaku UMKM, akademisi, dan penggiat pariwisata lokal.
Baca Juga: Gen Z Gak Paham Sejarah Peristiwa G30S PKI? Begini Fakta Sebenernya, Ternyata...