WartaPesona.com - Rio de Janeiro — Keikutsertaan Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-17 menjadi langkah strategis untuk mengamankan akses pasar ekspor baru bagi produk-produk dalam negeri.
Presiden Prabowo Subianto hadir untuk pertama kalinya sebagai kepala negara dari anggota penuh baru BRICS, dengan fokus memperkuat kolaborasi ekonomi internasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa dorongan ekspor Indonesia menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut.
Baca Juga: Indonesia Dorong BRICS Jadi Pasar Baru untuk Produk Lokal di Tengah Ketidakpastian Global
KTT ini menghasilkan Leaders Declaration yang terdiri dari empat poin strategis, salah satunya berkaitan erat dengan arah baru ekonomi global yang lebih terbuka dan inklusif.
“BRICS diharapkan menjadi kekuatan baru yang mampu menyerap produk Indonesia, terutama di tengah ketidakpastian global saat ini,” ungkap Airlangga.
Ia merinci bahwa poin kedua dalam deklarasi menjadi perhatian khusus: penguatan kerja sama ekonomi, stabilitas global, dan keamanan internasional.
Baca Juga: Lula di Hadapan Prabowo: BRICS Adalah Pewaris Semangat Bandung dan Gerakan Non-Blok
BRICS Sebagai Mitra Dagang Strategis
Dengan bergabungnya Indonesia sejak Januari 2025, BRICS kini berisi sepuluh negara dengan populasi besar dan pasar yang beragam.
Ini memberikan peluang ekspor Indonesia ke Afrika, Timur Tengah, dan Eropa Timur lebih luas lagi — dari sektor agrikultur, perikanan, manufaktur, hingga produk kreatif digital.
Airlangga menyebut Indonesia dapat menjadi penyedia bahan pangan, energi baru terbarukan, hingga produk UMKM yang potensial masuk ke pasar-pasar BRICS seperti Mesir, Ethiopia, dan India.
"Kita butuh BRICS bukan hanya sebagai forum geopolitik, tapi sebagai wadah perdagangan yang konkret dan saling menguntungkan,” tambahnya.
Baca Juga: Indonesia Tampil Perdana di KTT BRICS: Prabowo Disambut Hangat, Diaspora Brasil Sambut Harapan Baru
Peluang Nyata di Tengah Ketidakpastian
Di tengah dinamika global — mulai dari perang dagang, fluktuasi harga komoditas, hingga perlambatan ekonomi negara besar — BRICS menawarkan jalur alternatif diplomasi dagang.
Alih-alih hanya tergantung pada pasar tradisional seperti Eropa atau AS, Indonesia kini memiliki forum ekonomi multilateral yang bisa mempercepat penetrasi pasar non-tradisional. ***(SA)
Artikel Terkait
Indonesia Tampil Perdana di KTT BRICS: Prabowo Disambut Hangat, Diaspora Brasil Sambut Harapan Baru
Lula di Hadapan Prabowo: BRICS Adalah Pewaris Semangat Bandung dan Gerakan Non-Blok
Labuan Bajo Menuju Pariwisata Berkelanjutan: Pemerintah Pusat dan Daerah Bahas Strategi Tata Kelola Pengunjung
Indonesia Dorong BRICS Jadi Pasar Baru untuk Produk Lokal di Tengah Ketidakpastian Global