tekno

Najwa Hafbi: Perlunya Teknologi dalam mengatasi Sampah Plastik di Indonesia

Minggu, 3 Desember 2023 | 22:26 WIB
Perlunya fokus pada daur ulang dan pengurangan produksi sampah demi lingkungan yang bersih dan lestari. | WartaPesona.com
  1. Dalam waktu singkat sampah dengan jumlah besar dapat dihabiskan
  2. Diperoleh energi listrik yang dapat dimanfaatkan, baik untuk mendukung memproses kembali limbah padat maupun untuk digunakan oleh masyarakat.

Apakah pemanfaatan limbah padat/sampah perkotaan merupakan bisnis yang menguntungkan?

Baca Juga: Merbabu Park Semarang, Dari Jam Buka, Harga Tiket, Hingga Daya Tarik, Berikut Ulasannya

Pertama-tama yang perlu dipahami dan perlu adanya penyamaan persepsi bahwa berbicara tentang pengolahan/pemanfaatan sampah menjadi energi adalah berbicara tentang efektivitas pengelolaan sampah, bukan tentang seberapa menguntungkannya atau seberapa banyak energi yang dihasilkan.

Energi yang dihasilkan oleh sampah relatif kecil dibandingkan dengan pembangkitan listrik berbahan bakar lainnya, seperti batu bara, minyak dan lain-lain.

Dengan proses thermal, Energi listrik yang dihasilkan dari sampah relatif kecil, hanya sekitar 30 kWh per ton sampah. Hal ini pun tergantung dari karakteristik sampahnya. 

Jika tujuannya adalah untuk menghasilkan listrik secara ekonomis, hal ini sangatlah tidak efisien bila dibanding pembangkit listrik berbahan bakar lain, seperti batubara".

Hakekat tujuan proses pengolahan sampah perkotaan adalah mengurangi/meniadakan massa sampah yang keberadaannya memberikan dampak negatif terhadap lingkungan.

Proses pengolahan/ pemanfaatan sampah adalah COST bukan BENEFIT, oleh karena itu diperlukan dana untuk melaksanakan proses tersebut.

Dalam hal ini peran dan tanggung jawab Pemerintah (baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah) sangat menentukan.

Peran dan tanggung jawab Pemerintah ini antara lain dalam bentuk tipping fee, biaya investasi dan O&M, dan sebagainya. 

Di Indonesia, terdapat beberapa teknologi yang dapat digunakan untuk mengolah sampah plastik, antara lain:

  1. Teknologi Creasolv : Teknologi ini mampu mendaur ulang sampah kemasan plastik, seperti pouch dan sachet, menjadi bahan baku pembuatan kemasan plastik baru.

    Prosesnya dimulai dengan pengumpulan sampah plastik fleksibel di bank sampah, kemudian sampah tersebut disalurkan ke pabrik Teknologi Creasolv untuk diolah menjadi pelet plastik polimer yang merupakan bahan baku pembuatan kemasan plastik baru.
  2. Mallsampah : Mallsampah merupakan startup yang menengahi penghasil sampah untuk kemudian diperjualbelikan kepada pengepul atau pemulung.

    Melalui platform ini, masyarakat juga dapat membeli produk-produk yang ramah lingkungan.

  3. Dispenser Mas Eco : Dispenser Mas Eco merupakan dispenser pintar yang telah dirancang dengan memiliki sistem komputerisasi.

  4. TOSS Listrik Kerakyatan : Program pengolahan limbah organik, seperti dedaunan, rumput, dan pepohonan yang kemudian akan dijadikan sumber energi ekonomi alternatif.

  5. Teknologi incinerator, recycling, dan composting : Teknologi ini mengubah sampah yang dapat didaur ulang menjadi barang baru yang bermanfaat, serta mengubah sampah organik menjadi kompos.

  6. Peralatan lain : Konveyor, blower, dan mesin cacah plastik juga digunakan untuk mengelola sampah.

Beberapa negara maju telah mengembangkan metode pengolahan sampah yang efisien dan ramah lingkungan.

Berikut adalah beberapa contoh negara-negara tersebut Jerman.

Jerman dikenal sebagai negara pengolahan sampah terbaik di dunia.

Baca Juga: Kementerian PUPR, Gelar Pameran Water Art Installation Di GBK Arena

Pemerintah Jerman telah mengeluarkan Undang-Undang Manajemen Siklus Tertutup untuk memberikan tanggung jawab pengolahan sampah kepada produsen dan distributor produk.

Swedia, Swedia mengimpor sampah dari beberapa negara dan menggunakan teknologi Waste-To-Energy (WTE) untuk mengubah sampah menjadi energi.

Selain itu, pemerintah Swedia mengenai pajak yang besar bagi industri yang masih menggunakan bahan bakar fosil sejak awal abad ke-19.

Jepang, Jepang menggunakan sistem 3R (reduce, reuse, recycle) dan mengkategorikan limbah menjadi 4 jenis utama.

Sampah yang tidak dapat dibakar akan dikategorikan sebagai limbah dan mengkategorikannya sesuai dengan jenis masing-masing.

Hongkong, Hongkong membuat taman bermain dari tempat penampungan sampah.

Mereka mengolah sampah dengan menghasilkan energi listrik dan panas dari sampah yang diimpor dari negara tetangga.

Belanda, Negeri Kincir Angin (Belanda) mengadopsi sistem pengelolaan sampah yang sangat disiplin.

Sampah yang diimpor dari luar negeri harus dipilah-pilah sebelum dibakar, dan pembakaran sampah harus dilakukan dengan cara yang tidak menimbulkan efek sampingan yang merugikan kesehatan.

Baca Juga: Artapela: Menyaksikan Keindahan Luhur di Puncak Gunung yang Terlupakan

Dari contoh-contoh di atas, kita dapat melihat bahwa negara-negara maju telah mengembangkan metode pengolahan sampah yang efisien dan ramah lingkungan.

Meskipun teknologi dan sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih berkembang, ada beberapa inisiatif yang telah diambil pemerintah dan masyarakat untuk mengurangi sampah dan meningkatkan penggunaan teknologi terbarukan.

Dan dengan adanya teknologi-teknologi ini, diharapkan sampah plastik dapat diolah kembali sehingga dapat mengurangi dampak pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh sampah plastik. *** 

Halaman:

Tags

Terkini