WartaPesona.com - Belakangan ini dunia makin mengkhawatirkan dampak buruk perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Jika sebelumnya dunia sangat berharap adanya kemajuan di bidang AI atau kecerdasan buatan, kini banyak pakar justru khawatir akan bahayanya.
AI atau kecerdasan buatan ini tidak hanya akan menggeser peran manusia di dunia, namun juga memudahkan pelaku kejahatan teknologi melancarkan aksi.
Kecerdasan buatan yang selama ini diharap-harapkan, kini justru dikhawatirkan bisa menimbulkan bencana di dunia.
Baca Juga: Membangun Rumah Pintar dengan Teknologi Domotik yang Terintegrasi
Perintis kecerdasan buatan terkemuka yang dijuluki sebagai Godfather of AI, memperingatkan risiko teknologi tersebut lebih mendesak daripada dampak perubahan iklim.
Geoffrey Hinton, The Godfather of AI tersebut bahkan memilih berhenti dari pekerjaannya sebagai pengembang AI Google sejak bulan lalu.
Dia kemudian bergabung dengan para pakar lainnya seperti Elon Musk, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman dari pengembangan AI.
Baca Juga: Mengupas Teknologi Augmented Reality (AR) dan Perannya dalam Berbagai Industri
Kekhawatiran dunia terhadap dampak buruk kemajuan AI tersebut makin besar, ketika OpenAI bersama Microsoft berhasil menciptakan mesin chatbot yang disebut ChatGPT.
Sejumlah pakar menilai kemajuan AI tanpa aturan bisa memicu penyebaran informasi yang salah. Menyebabkan kerugian besar di dunia kerja, dan memberikan alat baru bagi para pelaku kejahatan.
Dampak kemajuan teknologi yang merugikan ini bahkan sudah terjadi dan menimpa para aktor film Hollywood.
Dikutip dari New York Post, Netflix telah membuat syarat kontrak bagi para pemain film untuk menyetujui penggunaan suara sang aktor diproduksi ulang secara digital.
Para pemain film yang tergabung dalam serikat aktor SAG-AFTRA memprotes keras persyaratan tersebut.
Persyaratan itu tentu saja merugikan para aktor, karena suara mereka bisa diproduksi ulang untuk keperluan komersial lain seperti iklan, dan apa saja.
Di Indonesia, dampak buruk penggunaan AI tersebut juga sudah mulai terasa. Ini sebagaimana suara yang mirip Presiden Joko Widodo bisa dibuat untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Baca Juga: Mengenal Teknologi Baru: Apa Itu Computing Quantum dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Bisa dibayangkan, kalau suara seorang presiden buatan AI digunakan untuk sesuatu kejahatan. Misalnya, penipuan.
Karena itu, pengamat politik menyebut penggunaan AI sebagai salah satu yang harus diwaspadai di musim Pilpres 2024 nanti.
Jika semua peranan manusia, bahkan karakter seseorang bisa dibuat dengan teknologi AI, bukankah bahaya besar nyata mengancam dunia? (KKT)
Artikel Terkait
Kendaraan Otonom dan Masa Depan Transportasi: Bagaimana Teknologi Menciptakan Perubahan?
Membangun Rumah Pintar dengan Teknologi Domotik yang Terintegrasi
Mengenal Teknologi Baru: Apa Itu Computing Quantum dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Mengupas Teknologi Augmented Reality (AR) dan Perannya dalam Berbagai Industri