WartaPesona.com - Terletak di kecamatan Abiansemal,Badung, Green Village hanya
berjarak 30 menit dari pusat kota Ubud dan menyajikan pemandangan tepi Sungai Ayung yang indah. Green Village telah menjadi salah satu destinasi wajib bagi wisatawan domestik maupun mancanegara karena desain arsitekturnya yang unik dan komunitasnya yang dinamis.
Asal mula berdirinya Green Village berawal dari dibangunnya Green School pada tahun 2008 oleh John Hardy dan istrinya, Cynthia Hardy.
Sesuai dengan namanya, sekolah ini mengusung konsep sustainable yang tersusun dari bambu dengan desain bangunan yang terbuka tanpa adanya tembok, beton, maupun kaca sehingga Green School kemudian dikenal sebagai sekolah dengan etos sustaina-ble yang kuat, praktis dan inovatif.
Dikutip dari E-Pesona Magazine IV/21 bahwa pada tahun 2010, putri John Hardy, Elora Hardy bersama tim arsitek IBUKU mulai membangun Green Village yang terinspirasi dari Green School.
Baca Juga: Angela Tanoesoedibjo Wamenparekraf: TRAVEX Jadi Jembatan Pelaku Parekraf Perluas Pasar Internasiona
Mengusung konsep luxury sustainable living, bangunan Green Village memiliki desain yang indah tanpa merusak atau mengganggu alam sekitar.
Saat ini Green Village memiliki 18 buah properti, dan tiap properti dimiliki oleh masing-masing individu dari berbagai negara.
Awalnya, pembangunan Green Village hanya ditujukan bagi anggota keluarga Green School saja. Akan tetapi, banyaknya wisatawan yang tertarik dan berkunjung untuk melihat desain rumah pada akhirnya mengubah misi dari Green Village.
Baca Juga: Buka SEABEF, Sandiaga Uno Menparekraf Dorong ASEAN Sebagai Episentrum Event Berskala Internasional
Setiap bangunan dirancang untuk mengikuti kontur alami dari lingkungan sekitar dengan fokus pemandangan ke tepi sungai.
Green Village berhasil menciptakan ruang hidup yang indah, juga tempat menginap dengan kenyamanan dalam kemewahan yang menyatu dengan alam sekitar. Pihak Green Village mengatakan tempat ini cocok bagi seseorang yang tertarik dengan bidang arsitektur, desain, dan fotografi.
Green Village mengusung konsep luxury sustainable living tanpa merusak atau
mengganggu alam sekitar.
Baca Juga: Kabar Gembira! Ingin Dapatkan Hadiah Perjalanan Umroh Gratis Yuk, Tingkatkan Transaksi di KAI Access
Selain penginapan, Green Village juga menawarkan sejumlah program kegiatan bagi para pengunjung seperti Green Village Tour, Bamboo Course Rindik Instrument, Bamboo Course Model Making, dan Bamboo Course Joinery Technique.
Sebagai upaya untuk menjaga privasi dan kenyamanan para penghuni Green Village, pihak manajemen mengadakan pembatasan jumlah pengunjung sebanyak maksimum 20 pengunjung per hari.
Pengunjung yang diperbolehkan untuk memasuki area Green Village hanyalah individu atau kelompok yang sebelumnya telah melakukan reservasi untuk menginap atau mengikuti aktivitas di dalam area Green Village.
Baca Juga: Liburan Ke Solo Wajib ke Museum Batik Danar Hadi Berikut 3 Alasannya
Salah satu langkah utama yang mereka ambil dalam mengatasi situasi pandemi adalah dengan mengikuti program sertifikasi Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability (CHSE) yang diberlakukan oleh Kemenparekraf.
Green Village telah dinyatakan lulus sertifikasi CHSE dengan nilai indikator yang sempurna.
Green Village juga turut mendukung program pemerintah dengan mengimplementasikan QR code PeduliLindungi sebagai ‘kartu akses pengunjung’ untuk dapat masuk ke area Green Village, serta tetap memprioritaskan kepuasan dan memberikan pelayanan terbaik mereka dengan menjalankan protokol kesehatan COVID-19.
Sebagai salah satu pelaku usaha pariwisata, Green Village turut berharap agar sektor pariwisata Indonesia dapat bangkit kembali. *** (SA)