pesona-kuliner

Wae Rebo, Pesona Desa Adat di Pulau Flores

Sabtu, 14 Januari 2023 | 12:58 WIB
Wae Rebo, Desa Adat di Pulau Flores NTT (indonesia.travel)

WartaPesona.com- Sobat Pesona, kamu pernah dengar tentang Desa Adat Wae Rebo? Terletak di Kabupaten Manggarai di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, desa wisata yang satu ini pernah menerima Top Award of Excellence dari UNESCO dalam UNESCO Asia Pacific Heritage Awards 2012, yang diumumkan di Bangkok pada 27 Agustus 2012.

Penasaran kan, apa saja sih yang unik di Desa Adat Wae Rebo ini? Yuk, baca artikel ini sampai selesai.

Wae Rebo adalah desa adat kecil yang berlokasi jauh dari perkotaan. Desa ini terletak sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut dan untuk mengununginya, dibutuhkan sekitar 3-4 jam perjalanan dengan berjalan kaki dari Desa Denge.

Baca Juga: Rifat Sungkar : Indonesia Gak Lepas dari Komunitas Otomotif yang Telah Memajukan Nama Otomotif Indonesia

Desa ini dikelilingi oleh pegunungan yang indah serta Hutan Todo yang rindang serta kaya akan vegetasi. Di hutan ini, Sobat Pesona dapat menemukan anggrek, berbagai jenis pakis, serta mendengar kicauan merdu dari beragam burung yang membuat suasana menjadi semakin ceria.

Harus diingat nih, tidak ada jangkauan seluler di desa ini, dan listrik hanya tersedia dari pukul 6 hingga 10 malam. Udaranya juga relatif dingin, apalagi di musim kemarau. Jadi, kalau Sobat Pesona ingin berkunjung ke Desa Adat Wae Rebo, jangan lupa membawa jaket, ya!

-

Pendiri Desa Wae Rebo adalah seorang pria bernama Empu Maro. Beliau membangun desa tersebut sekitar 100 tahun yang lalu dan kemudian dilestarikan oleh penduduk lokalnya hingga sekarang mencapai keturunan generasi ke-18.

Salah satu hal yang unik dan menjadi ciri khas dari Wae Rebo adalah rumah adat Mbaru Niang yang tinggi dan berbentuk kerucut serta tertutup ilalang lontar dari atap hingga ke tanah.

Baca Juga: Morotai,Surga Tropis di Maluku Utara Keindahan Yang Luar Biasa

-

Rumah Mbaru Niang ini memiliki lima tingkat, di mana setiap tingkat dirancang untuk tujuan tertentu. Tingkat pertama, yang disebut lutur atau tenda, adalah tempat tinggal keluarga besar. Tingkat kedua, yang disebut lobo atau loteng, dikhususkan untuk menyimpan makanan dan barang-barang.

Tingkat ketiga yang disebut lentar adalah tempat penyimpanan benih untuk musim tanam berikutnya. Tingkat keempat yang disebut lempa rae adalah untuk menyimpan persediaan makanan jika terjadi kekeringan.

Baca Juga: Morotai,Surga Tropis di Maluku Utara Keindahan Yang Luar Biasa

Terakhir tingkat kelima dan teratas yang disebut hekang kode, juga yang dianggap paling suci, adalah tempat persembahan untuk leluhur.

Halaman:

Tags

Terkini

Ada Festival Iraw Tengkayu di Kalimantan Utara

Sabtu, 4 Juli 2026 | 06:18 WIB