“Saya sehabis mengajar di sekolah, biasanya ke sini untuk memantau Desa Wisata Hutatinggi ini,” ujar Bu Pesta Sitanggang, seorang guru PPKN SMA sekaligus pengelola homestay, yang juga keturunan pemilik Desa Wisata Hutatinggi bermarga Sitanggang.
Ketika kami datang ke Desa Wisata Hutatinggi yang merupakan 50 Desa Terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia tahun 2021, beliau menyambut dengan ramah dan bersahabat. Kami diajak masuk ke rumah adat Batak yang juga dijadikan homestay. “Paket yang kami tawarkan juga menarik karena selain homestay, ada berbagai aktivitas. Kalau ada yang ingin makan masakan khas Batak, bahkan sampai masak sendiri, kami siapkan,” terangnya seraya menambahkan bahwa selama pandemi, mereka sangat ketat dengan protokol kesehatan.
Bu Pesta mengakui bahwa pandemi memang membuat operasional homestay sempat tersendat. Apalagi, para wisatawan asing terhalang untuk mengunjungi Indonesia. Karena itu ia berharap, situasi semakin membaik agar homestay ramai kembali.
Setelah berbincang di dalam rumah, Bu Pesta mengajak kami mencicipi beberapa kuliner khas setempat, yaitu keju kerbau atau keju Batak, arsik ikan mas, dan ikan goreng andaliman. Wah, sedap semuanya.
5) Sonta Situmorang dari Desa Wisata Lumban Suhi Suhi Toruan
Baca Juga: Apa yang bisa dilakukan selama di Danau Toba? Inilah Urutan Daya Tarik Danau Toba
Rasanya tak bakal bosan kita melihat jemari Bu Sonta begitu mahir, lentik, cekatan menenun kain. Mimik wajahnya dapat dikatakan serius, tetapi beliau tetap menyahut ramah jika diajak berbincang. Hal yang dibicarakan seputar jenis-jenis kain ulos dan sejarahnya. Hangat dan bangga beliau menjelaskan budaya dari kampung halamannya ini, Kampung Ulos Hutaraja di Desa Wisata Lumban Suhi Suhi Toruan.
“Kalau pola kainnya salah, harus ulang lagi,” Bu Sonta menunjuk kain yang tengah ditenun. Wanita berusia 70 tahun ini menekankan, untuk menghasilkan kain ulos yang cantik memang dibutuhkan pengorbanan. Salah satunya adalah jika ternyata pola kainnya salah dan harus diulang. “Tak seperti menulis di kertas yang kalau salah bisa langsung dicoret atau kertasnya dibuang lalu cari kertas baru! Dalam menenun, kalau salah, harus tetap melanjutkan menenun kain yang sama. Jadi, terpaksa harus diulang,” jelasnya.
Mengenai proses pembuatan kain ulos sendiri, Bu Sonta bercerita memerlukan waktu bisa sampai tiga bulan. “Ini jadinya, kira-kira sampai berbulan-bulan. Jadi, tak bisa orang datang langsung minta dibikinkan kain tertentu. Harus pesan dulu. Kecuali mau beli yang sudah dibuat,” kata Ibu Sonta. Memang perlu kesabaran untuk membuat kain ulos. Wajar pula jika harganya tak murah.
Profesi sebagai penenun mengantarkannya bertemu presiden dan ibu negara. Kala itu, Bu Sonta sangat terharu, was-was, tak menyangka bakal menerima kedatangan orang nomor satu di negeri ini, sekaligus mengenakan kain ulos hasil buah karya tangannya sendiri.
6) Sofia Manurung dari Desa Wisata Tuktuk