Karena itu spesies ini memiliki kesan atau konotasi angker, dan dinamai gastrodia bambu.
Pada satu perbungaan, anggrek hantu bisa menghasilkan hingga 8 kuntum bunga yang mekar secara bergantian.
Perbungaan muncul dari tanah berserasah di bawah rumpun-rumpun bambu tua di ketinggian 800 - 900 meter di atas permukaan laut.
Baca Juga: Perhatikan, 5 aksesori interior mobil ini bisa berisiko sebabkan bahaya
Sementara itu, aroma seperti bau ikan busuk pada bunga anggrek hantu ini untuk mengundang serangga polinator.
Peneliti menduga, gastrodia bambu memerlukan kondisi ekologi yang sangat spesifik dan sensitif terhadap perubahan lingkungan.
Anggrek hantu ini sangat peka terhadap kekeringan, intensitas cahaya berlebih, dan perubahan media tumbuh.
Diperkirakan, perubahan iklim global yang menyebabkan perubahan intensitas curah hujan tahunan sangat mempengaruhi periode perbungaan dan pertumbuhan populasi anggrek tersebut.
Berdasarkan catatan rekaman populasi, anggrek hantu merupakan spesies endemik yang hanya ada di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat dan Yogyakarta.
Populasinya pun terbatas dan menghadapi tekanan degradasi habitat yang tinggi. Tidak seperti tumbuhan anggrek pada umumnya.
Hingga saat ini, spesies gastrodia bambu dan kebanyakan anggrek holomikotropik lainnya, masih belum dapat dibudidayakan maupun ditumbuhkan di luar habitat aslinya.
Hal tersebut menjadi misteri sekaligus tantangan utama dalam upaya konservasi bunga anggrek hantu tersebut. ***(KKT)