WartaPesona.com - Sejak nenek moyang, Salak Bali dibudidayakan secara agroforestri, sehingga punya cita rasa manis, masir, dan khas.
Selain rasa, karakter buah Salak Bali yang dibudidayakan secara agroforestri ini juga bisa dilihat dari bentuknya yang cenderung bulat sempurna.
Bentuk Salak Bali hasil budidaya agroforestri yang bulat sempurna, berbeda dengan buah serupa dari daerah lain, misalnya salak pondoh dari Sleman Yogyakarta yang cenderung lonjong.
Di Bali, utamanya di kabupaten Karangasem, ada sekitar belasan jenis salak yang dibudidayakan secara agroforestri.
Beberapa varian buah Salak Bali ini antara lain, salak gula pasir, salak getih, salak cengkih, salak kelapa, dan salak beringin.
Dari belasan jenis Salak Bali, varian salak gula pasir menjadi primadona bagi penggemar buah berkulit mirip sisik ular berwarna coklat kekuningan ini.
Baca Juga: Mulai 1 Januari 2025 Rumah Tangga di DKI Jakarta akan dikenai retribusi sampah, besarannya segini
Salak Bali melengkapi eksotisme Pulau Dewata sebagai surga pariwisata, yang bisa dibawa pulang oleh wisatawan sebagai salah satu oleh-oleh khas.
Tak sulit untuk menemukan buah Salak Bali, karena hampir ada di setiap kota dan lokasi wisata Pulau Seribu Pura ini.
Salak Bali yang merupakan buah endemik dibudidayakan secara agroforestri sejak nenek moyang setempat.
Baca Juga: Alasan Presiden Jokowi yakin Indonesia jadi kekuatan ekonomi baru superpower economy di Asia
Dalam sejarahnya, buah khas berbiji keras ini berasal dari Desa Sibetan Karangasem. Lalu, berkembang luas hingga hampir seluruh kabupaten di Provinsi Bali.
Agroforestri merupakan sistem pertanian yang memadukan tanaman utama dengan beberapa pohon lain yang semusim.