WartaPesona.com - Kebakaran yang melanda Bukit Teletubbies di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, memberikan peringatan keras tentang keberlanjutan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di sekitarnya. Dampak yang mengerikan dari kebakaran ini merusak ekosistem satwa dan flora di wilayah sekitar Gunung Bromo.
Insiden kebakaran di Gunung Bromo mengingatkan kita akan pentingnya berwisata dengan bijak. Dalam jangka panjang, kebijakan berwisata yang bijak bertujuan untuk menciptakan destinasi wisata yang berkelanjutan, yang bermanfaat bagi lingkungan, budaya, sosial, dan ekonomi, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan yang datang berkunjung.
Kesadaran akan pentingnya destinasi wisata berkelanjutan dimulai dengan mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku di kawasan atau destinasi yang Anda kunjungi sebagai wisatawan. Terutama ketika Anda berwisata ke kawasan yang tidak dapat dikunjungi sembarangan seperti Gunung Bromo.
Baca Juga: Pertumbuhan Gemilang di Tahun 2024: Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Indonesia
Harap diingat, beberapa kawasan di Indonesia memiliki status tertutup, yang berarti wisatawan dilarang mengunjunginya. Kawasan-kawasan ini biasanya adalah kawasan konservasi atau hutan lindung.
Seperti dikutip dari laman Kemenparekraf bahwa larangan tersebut bukanlah tanpa alasan, karena kawasan konservasi memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan ekosistem alam dan melindungi flora serta fauna yang ada di dalamnya. Dengan demikian, kita semua memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga kawasan-kawasan ini.
Popularitas Wisata ke Kawasan Konservasi di Indonesia
Harap diingat, sustainable tourism adalah konsep berwisata yang bertujuan memberikan dampak jangka panjang, baik pada lingkungan, budaya, sosial, maupun ekonomi, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung.
Baca Juga: Sandiaga Uno: Piala Presiden Esports 2023 Membuktikan Kemajuan Ekonomi Kreatif di Era Digital
Dalam upaya mengembangkan sustainable tourism, kita perlu memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan atau destinasi yang kita kunjungi.
Kesadaran ini tidak hanya berperan dalam menjaga ketertiban dan kenyamanan berwisata, tetapi juga penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam di kawasan konservasi.
Fakta menunjukkan bahwa wisata konservasi semakin diminati oleh wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.
Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada tahun 2022, sebanyak 5,29 juta wisatawan mengunjungi kawasan konservasi di Indonesia, terdiri dari 5,1 juta wisatawan lokal dan 189.000 wisatawan mancanegara.
Baca Juga: Indonesia Bersinar di Panggung Dunia: Penghargaan UNWTO 'Best Tourism Village 2023