pesona-kuliner

Begini sejarah Masjid Gedhe Yogyakarta, dibangun bertahap, pernah runtuh karena gempa tahun 1867

Jumat, 29 September 2023 | 11:52 WIB
Masjid Gedhe Yogyakarta yang dibangun bertahap dan pernah runtuh akibat gempa tahun 1867. (Instagram @kratonjogja)

Pembuatan serambi itu ditandai sengkala ‘Yitno Windu Resi Tunggal’ yang berarti tahun 1701 Jawa/1775 Masehi.

Serambi masjid itu tidak hanya untuk sholat, namun juga difungsikan sebagai tempat pertemuan alim ulama dan pengajian.

Bahkan pada zaman Sultan HB I, serambi masjid itu digunakan pula sebagai tempat pengadilan agama seperti pernikahan dan perceraian.

Tentu saja juga menjadi tempat berlangsungnya peringatan hari-hari besar keagamaan Islam.

Baca Juga: Pameran Nget-Ngetan, acara seni budaya yang mengangkat spirit ketahanan pangan di Yogyakarta

Pada tahun yang sama, juga dibangun pagongan yang berfungsi sebagai tempat gamelan sekaten. Letaknya berada di depan serambi sebelah kanan dan kiri atau utara dan selatan.

Seiring dengan perkembangannya, masjid jami’ Kesultanan Yogyakarta diperluas kegiatannya.

Sultan HB I membuatkan permukiman bagi para pengurus atau takmir masjid, yang kepengurusannya dipegang seorang abdi dalem penghulu.

Baca Juga: Pewarna alami Karmin dari serangga Cochineal, dipakai untuk kain hingga makanan dan minuman

Dalam melaksanakan tugas-tugasnya, penghulu keraton dibantu oleh abdi dalem ketib, modin, merbot dan pamethakan, serta abdi dalem kaji selusinan dan barjamangah.

Sebagian dari para abdi dalem itu dibuatkan rumah di sekitar masjid, yang kemudian  tempat ini disebut Pakauman.

Sesudah berkembang menjadi permukiman atau perkampungan, tempat itu pun menjadi Kampung Kauman.

Jauh sesudah pergantian Raja Sultan HB I, pada tahun 1840 Masehi Sultan HB VI melengkapi lagi bangunan masjid itu dengan regol atau pintu gerbang yang disebut gapura.

Baca Juga: Sejak 2011 MUI sudah nyatakan pewarna Karmin dari serangga Cochineal halal digunakan, landasannya ini

Pembangunan gapura itu ditandai sengkala ‘Pandita Nenem Sabdo Tunggal’, yang berarti tahun 1767 Jawa/1840 Masehi.

Halaman:

Tags

Terkini