Ia pun menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut kepada pihak sekolah, siswa, serta para wali murid yang menerima layanan MBG di wilayah tersebut.
“Saya selaku Kepala SPPG memohon maaf,” katanya.
Athoullah menjelaskan bahwa setelah menerima laporan mengenai adanya menu yang tidak layak dikonsumsi, pihaknya langsung mengambil langkah untuk menangani permasalahan tersebut.
Menurutnya, pihak dapur segera mengganti menu yang dianggap bermasalah agar para siswa tetap dapat menerima makanan yang layak.
“Selesai itu, kami langsung bertindak dan bertanggung jawab terkait pelayanan di Dalpenang dengan cara mengganti menu yang sudah tidak layak,” jelasnya.
Menu Dipesan dari UMKM
Lebih lanjut, Athoullah menjelaskan bahwa menu ikan bandeng yang dibagikan dalam program MBG tersebut merupakan hasil pasokan dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi mitra dapur.
Ia menyebutkan bahwa pada hari kejadian tersebut, pasokan ikan bandeng datang ke dapur dalam waktu yang cukup larut.
“Pada saat itu memang menunya agak telat masuknya ke dapur sekitar pukul 01.00 WIB,” ungkapnya.
Kendati demikian, Athoullah menegaskan bahwa sebelum makanan didistribusikan ke sekolah, pihak dapur telah melakukan proses penyortiran terhadap bahan makanan yang diterima.
Klaim Sudah Disortir
Menurut Athoullah, proses penyortiran dilakukan oleh para karyawan dapur untuk memastikan makanan yang akan dibagikan kepada siswa dalam kondisi layak.
Penyortiran tersebut dilakukan tidak hanya pada menu ikan bandeng, tetapi juga pada bahan makanan lain seperti buah-buahan yang turut disertakan dalam paket MBG.
“Menu yang tidak layak langsung kami buang. Mungkin karena ada salah satu ikan kurang layak yang terselip, sehingga akhirnya kecolongan,” ujarnya.
Ia mengakui kemungkinan adanya satu atau dua bahan makanan yang luput dari pemeriksaan saat proses penyortiran berlangsung.
“Semua disortir sebelum di-packing untuk antisipasi,” lanjutnya.