“Semangat terus mengukir senyuman pada anak didik ya kak, sehat selalu untuk semuanya,” tulis akun @ren****s.
Beberapa warganet juga menyoroti kebijakan pendidikan dan pemerataan pembangunan infrastruktur sekolah, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Mungkin MBG di daerah 3T masih diperlukan, tapi swasta yang ortunya kalangan mampu lebih baik dialihkan untuk pembangunan sekolah yang membutuhkan seperti ini,” tulis akun @lad*******a.
Ada pula yang membandingkan kondisi tersebut dengan sekolah di daerah yang infrastrukturnya sudah memadai.
“Ketimpangan banget ya, sekolahku yang infrastrukturnya sudah cukup layak saja suka deg-degan kalau hujan besar, gimana ini. Sehat-sehat Bu Guru,” tulis akun @sun***f.
Tak sedikit warganet berharap adanya perhatian serius dari pemerintah pusat maupun daerah.
“Semoga setelah ini Kemendikdasmen memperhatikan sekolah di pelosok yang belum ada perbaikan fisik maupun sistem,” tulis akun @qiq******a.
Viralnya kondisi SDN Leomanu ini kembali membuka diskusi publik tentang pemerataan fasilitas pendidikan di Indonesia.
Di tengah berbagai kemajuan, masih ada anak-anak yang harus belajar di ruang tanpa dinding, berlantaikan tanah, dan tergenang air saat hujan, sebuah ironi yang menyisakan pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan nasional. *****