Meski anak-anak terlihat berusaha ceria, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak seharusnya dibiarkan terus-menerus.
Menurutnya, ketimpangan fasilitas pendidikan seperti ini tidak boleh dianggap sebagai hal yang wajar.
“Mereka happy juga main air, cuma ya yang begini jangan keterusan. Masa ketimpangan fasilitas pendidikan mau dijaga terus,” tulisnya menanggapi salah satu komentar warganet.
Tak hanya ruang belajar, halaman sekolah dan area di sekitarnya juga tampak tergenang air berwarna cokelat setiap kali hujan turun, menambah risiko bagi keselamatan dan kenyamanan siswa.
Akses Sulit, Sekolah Bisa Terisolir Saat Musim Hujan
Kondisi SDN Leomanu semakin memprihatinkan karena letaknya yang terpencil. Sekolah ini memiliki sekitar 71 orang siswa yang harus menempuh akses perjalanan panjang dan penuh tantangan.
Menurut pemilik akun, jarak sekolah dari pusat Kota Kupang mencapai sekitar 10 jam perjalanan.
Selain itu, akses menuju lokasi mengharuskan melewati sungai lebar tanpa jembatan.
“Sekolahnya sejauh 10 jam dari kota Kupang. Tidak lupa harus menyeberangi sungai lebar tanpa jembatan dan kalau hujan besar, dia juga banjir parah,” ungkapnya.
Akibat kondisi tersebut, sekolah dan desa sekitar kerap terisolasi saat musim hujan tiba.
Aktivitas belajar mengajar pun sering terganggu, bahkan terancam terhenti jika cuaca ekstrem berlangsung lama.
“Jadi, kalau musim hujan kayak gini, biasa terisolir,” lanjutnya.
Tuai Keprihatinan dan Harapan Warganet
Unggahan video tersebut telah ditonton lebih dari 50 ribu kali dan memantik beragam reaksi dari warganet.
Mayoritas menyampaikan rasa prihatin sekaligus apresiasi terhadap dedikasi guru dan semangat belajar siswa di tengah keterbatasan.