pesona-kuliner

Mengapa Bulan Suro dianggap  sakral dan keramat? Cari tahu di Sini

Selasa, 25 Juli 2023 | 06:00 WIB
Salah satu upacara adat bulan Suro di Yogyakarta. (@kokot)


WartaPesona.com -  Bagi sebagian masyarakat Jawa, Suro merupakan bulan sakral dan keramat. Kepercayaan ini sudah berlaku sejak zaman nenek-moyang.

Kepercayaan atau anggapan tentang Suro sebagai bulan sakral dan keramat itu sudah ada sejak zaman kuno.

Namun begitu, banyak orang masih ada yang merasa tidak paham mengapa bulan Suro dianggap sakral dan keramat.

Bulan Suro memang sungguh fenomenal. Sekian banyak ulasan tentang bulan pertama di tahun Jawa itu seolah tiada pernah bisa memuaskan.

Apalagi, bagi kaum milenial yang serba rasionalistis. Selalu ditanyakan, mengapa begitu banyak ritual diadakan pada bulan Suro? Dan, mengapa tidak boleh menggelar hajatan bersifat suka ria?

Baca Juga: Buat penggemar, yuk ingat kembali perjalanan karier grup musik Kangen Band

Seperti diketahui, pada bulan Suro ini banyak diadakan prosesi ritual yang bermakna pembersihan seperti jamasan pusaka, tapa bisu, dan sebagainya.

Menurut Romo Sumo, tradisi atau upacara adat yang selalu diselenggarakan di bulan Suro itu disebut Adat Suran.

Pada setiap tanggal 1 Suro, masyarakat Jawa mengadakan kegiatan-kegiatan adat sesuai kebiasaan yang berlaku, yang kemudian disebut Adat Suran.

Adat Suran tersebut juga disebut pula sebagai Tanggap Warsa, yang artinya menyambut datangnya tahun baru, yaitu tahun baru Jawa.

Baca Juga: Mengenal teknologi Penyimpanan Awan, Cloud Storage pada Handphone, seberapa efektif?

Tanggap Warsa atau Adat Suran itu diperingati dengan berbagai kegiatan. Tidak hanya di perdesaan, tetapi juga di kota dan di istana.

Berbagai kegiatan Suran di daerah antara lain mengadakan doa bersama, berjalan tapa bisu atau Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta, ziarah makam, dan banyak lagi.

Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan Adat Suran bukan kegiatan bersuka-ria. Tetapi keprihatinan untuk mawas diri dan pengendalian diri.

Itulah mengapa, bulan Suro sering kemudian dianggap sakral dan keramat.

Sementara itu dalam sejarahnya, Upacara Adat Suran mulai ada sejak zaman Raja Mataram Yogyakarta, Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Baca Juga: Resep dan tips memasak Semur Jengkol yang Lezat, bebas aroma

Sultan Agung Hanyokrokusumo sebagai penerus agama Islam, mempersatukan tarikh hijriyah yang berdasarkan peredaran bulan atau qomariyah dengan tarikh Jawa yang berdasarkan peredaran matahari atau syamsiah.

Penyatuan penanggalan itu dimulai pada tanggal 1 Suro 1555 Jawa, yang bertepatan dengan  1 Muharram 1043 Hijriyah, dan tanggal 8 Be 1633 Masehi

Dengan demikian, maka tanggal 1 Suro 1555 Jawa ditetapkan sebagai awal tahun Jawa, yang tidak dimulai dari tahun 1, tetapi dimulai dari tahun 1555.

Baca Juga: Apa saja makanan sehat dan alami yang bisa menambah berat badan?

Tanggal 1 Suro 1555 Jawa dianggap sebagai hari yang keramat atau sangat penting dan monumental, karena menjadi hari ditetapkannya keputusan penting Praja Mataram.

Tanggal 1 Suro bertepatan dengan tanggal 1 Muharam, yang merupakan peristiwa hijrahnya Rasulullah dari Mekah ke Madinah.

Hijrah Kanjeng Nabi itu  dimaknai sebagai berpindahnya orang Islam dari perbuatan buruk ke perbuatan baik.

Karena itu, masyarakat Jawa menyambut datangnya tahun baru Jawa dengan cara menghindari perayaan hura-hura, untuk menghormati momentum sakral tersebut. ***KKT

Tags

Terkini